Penamaan dan pendefinisian
adalah dua buah proses pelambangan suatu konsep untuk mengacu pada suatu referen
di luar bahasa. Kedua proses ini walaupun banyak kesamaannya tetapi banyak pula
perbedaannya. Keduanya akan dibahas berikut ini.
A. Penamaan
Nama
itu sama dengan lambang untuk sesuatu yang dilambangkannya, maka berarti pemberian
nama itu pun bersifat arbitrer, tidak ada hubungan wajib sama sekali. Pemberian
nama adalah soal konvensi atau perjanjian belaka di antara sesama anggota suatu
masyarakat bahasa (Ariestoteles 384-322 SM). Secara kontemporer masih didapati
sebab-sebab atau peristiwa yang melatarbelakangi terjadinya penamaan atau
penyebutan terhadap sejumlah kata yang ada dalam leksikon bahasa Indonesia.
Berikut ini akan dibicarakan beberapa diantaranya.
1.
Peniruan Bunyi
Nama-nama
benda atau hal tertentu dibentuk berdasarkan bunyi atau suara yang ditimbulkan oleh
benda tersebut. Misalnya :
Cicak
dibentuk dari suaranya “cak, cak, cak”, Tokek dibentuk dari suaranya “tokek,
tokek”, Burung gagak dibentuk dari suaranya “gak, gak”
Contoh
lain meong nama untuk kucing, gukguk nama untuk anjing. Menurut bahasa
kanak-kanak adalah karena bunyinya begitu. Hal seperti ini disebut kata peniru bunyi
atau onomatope.
Kata-kata
yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi ini tidak semuanya sama persis, hanya mirip
saja, mengapa? Pertama, karena benda atau
binatang yang mengeluarkan bunyi tidak memiliki alat fisiologis seperti manusia.
Kedua, karena fonologi setiap bahasa tidak
sama. Itulah sebabnya, mengapa orang Sunda menirukan kokok ayam jantan sebagai [kongkorongok], orang Melayu Jakarta sebagai
[kukuruyuk], sedangkan orang Belanda sebagai [kukeleku].
2.
Penyebutan
Bagian
Dalam
bidang kesusastraan ada istilah pars pro
toto gaya bahasa yang menyebutkan bagian dari suatu benda atau hal, padahal
yang dimaksud adalah keseluruhannya. Misal, kata kepala “setiap kepala menerima bantuan seribu rupiah” sebenarnya yang
dimaksud adalah bukan kepala manusia melainkan setiap orang.
Kebalikan
dari pars pro toto adalah gaya
retorika yang disebut totem pro perte yaitu menyebutkan keseluruhan untuk sebagian.
Misalnya, “Indonesia memenangkan medali
perak Olimpiade” sebenarnya yang dimaksud hanyalah beberapa orang dari
Indonesia yang meraihnya.
3.
Penyebutan Sifat
Khas
Hampir sama dengan pars
pro toto yang dibicarakan di atas adalah penamaan suatu benda berdasarkan sifat
yang khas yang ada pada benda itu. Di sini terjadi perkembangan yaitu berupa
ciri makna yang disebut dengan kata sifat itu mendesak kata bendanya, karena
sifatnya yang amat menonjol sehingga kata sifat itulah yang menjadi nama subjek
atau bendanya. Misal, orang yang sangat kikir lazim disebut si kikir. Di dalam dunia politik dulu
ada istilah golongan kanan dan golongan kiri. Maksudnya adalah golongan
agama dan golongan komunis.
4.
Penemu dan
Pembuat
Appelativa
adalah
nama benda yang dibuat berdasarkan nama penemunya. Nama-nama yang dibuat berdasarkan
nama orang antara lain: kondom yaitu
sejenis alat kontrasepsi yang dibuat oleh Dr. Condom; mujair adalah sejenis nama ikan air tawar yang
ditemukan oleh seorang petani bernama Mujair
di Kediri, Jawa Timur. Kata sandwich, yaitu
roti dengan mentega dan daging di dalamnya, berasal dari nama seorang bangsawan
Inggris Sandwich. Dia seorang penjudi
berat yang selalu membawa bekal berupa roti seperti di atas agar dia dapat
makan sambil tetap bermain.
5.
Tempat Asal
Sejumlah
nama benda dapat ditelusuri berdasarkan dari mana tempat asal benda tersebut.
Misalnya kata magnit berasal dari
nama tempat Magnesia; kata kenari nama
sejenis burung dari nama pulau kenari di Afrika; kata sarden nama sejenis ikan berasal dari nama pulau Sardiniadi Italia.
Selain
itu banyak juga kata kerja yang dibentuk dari nama tempat misalnya, didigulkan yang berarti dibuang ke Digul
di Irian Jaya, dinusakambangkan yang
berarti dipenjarakan di Pulau Nusa
Kambangan, kata dipasarkan jelas
berasal dari kata pasar.
6.
Bahan
Nama
benda yang namanya diambil dari nama bahan pokok benda itu. Misalnya, karung
yang dibuat dari goni yaitu sejenis
serat tumbuh-tumbuhan yang dalam bahasa latin disebut Corchorus capsularis disebut goni atau guni. Jadi kalau dikatakan
membeli beras dua goni, maksudnya
membeli beras dua karung.
7.
Keserupaan
Dalam praktek berbahasa banyak kata yang
digunakan secara metaforis. Artinya kata itu digunakan dalam suatu ujaran yang
maknanya dipersamakan atau diperbandinkan dengan makna leksikal dari kata itu.
Misalnya kata kaki pada frase kaki meja,
kaki gunung, dan kaki kursi. Di sini kaki mempunyai kesamaan makna dengan
salah satu ciri makna dari kata kaki yaitu “alat penopang berdirinya tubuh”
pada frase kaki meja dan kaki kursi, dan ciri “terletak pada bagian bawah” pada
frase kaki gunung.
8.
Pemendekan
Dalam perkembangan
bahasa terakhir ini banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia yang terbentuk
sebagai hasil penggabungan unsur-unsur huruf awal atau sukukata dari beberapa
kata yang digabungkan menjadi satu. Misalnya, abri yang berasal dari angkatan Bersenjata Republik Indonesia; koni berasal dari Komite Olahraga
Nasional Indonesia; monas yang
berasal dari Monumen Nasional.
Kata-kata yang
terbentuk sebagai hasil penyingkatan ini lazim disebut akronim. Kata-kata
akronim ini hampir didapati di setiap bidang kegiatan. Contoh, lemhanas berasal dari lembaga pertahanan
nasional, inkopol berasal dari induk
koperasi polisi, pemda berasal dari
pemerintah daerah.
9.
Penamaan Baru
Dewasa ini banyak kata
atau istilah baru yang dibentuk untuk menggantikan kata atau istilah lama yang
sudah ada. Kata atau istilah lma yang sudah ada itu perlu diganti dengan kata
atau istilah baru, atau sebutan baru, karena dianggap kurang tepat, tidak
rasional, kurang halus dan sebagainya. Misalnya, kata parawisata untuk
mengganti turisme; wisatawan untuk mengganti turis atau pelancong; kata
darmawisata untuk mengganti piknik; dan kata suku cadang untuk mengganti
onderdile. Kata turisme, turis atau pelancong, piknik, onderdile dianggap tidak
bersifat nasional. Karena itu perlu diganti dengan yang bersifat nasional.
B. Pendefinisian
Pendefinisian adalah
usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk mengungkapkan dengan kata-kata akan
suatu benda, konsep, proses, aktivitas, peristiwa, dan sebagainya.
Banyak cara untuk membuat definisi ini.
Hasil yang didapat dari cara-cara pendefinisian ini adalah adanya beberapa
macam definisi yang berbeda-beda. Diantara lain macam-macam pendefinisian adalah :
-
Definisi
Sinonimis : didefinisikan dengan sebuah kata lain yang merupakan sinonim dari
kata itu. Contoh, kata bapak dan ayah, tirta dan air.
-
Definisi formal
: didefinisikan dengan cara menyebutkan terlebih dahulu cirri umumnya lalu
disebutkan pula ciri khususnya. Contoh :
Konsep Ciri Umum Ciri khusus
Bis kendaraan
umum dapat memuat
banyak penumpan
Pensil alat
tulis terbuat
dari kayu dan arang
-
Definisi Logis :
mengindentifikasikan secara tegas objek, ide atau konsep yang didefinisikan itu
sedemikian rupa, sehingga objek tersebut berbeda secara nyata dengan
objek-objek lain. Contoh,
Air
adalah zat cair yang jatuh dari awan sebagai hujan, mengaliri sungai,
menggenangi danau dan lautan, merupakan unsur pokok dari kehidupan, campuran
oksida hydrogen H2O, tanpa bau, tanpa rasa dan tanpa warna, tapi tampak
kebiru-biruan pada lapisan yang tebal, membeku pada suhu nol derajat Celcius,
mendidih pada suhu 100 derajat Celcius, mempunyai berat jenis maksimum pada 4
derajat Celcius.
-
Definisi Ensiklopedis
: Pendefinisian yang lebih luas, lengkap, jelas serta cermat akan segala
sesuatu yang berkenaan dengan kata atau konsep yang didefinisikan.
-
Definisi Operasional
: definisi yang sifatnya membatasi. Misalnya :
a. Yang dimaksud dengan air dalam tulisan ini adalah zat cair
yang merupakan kebutuhan hidup manusia sehari-hari seperti makan, minum, mandi
dan cuci.
b. Yang dimaksud dengan air dalam pembahasan ini adalah segala
zat cair yang terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan, baik yang ada dalam batang
(tebu), maupun yang ada di dalam buah.
C.
Pengistilahan
Berbeda
dengan proses penamaan atau penyebutan yang lebih banyak berlangsung secara
arbitrer, maka pengistilahan lebih banyak berlangsung menurut prosedur. Karena
butuh suatu ketepatan dan kecermatan makna untuk suatu bidang kegiatan atau
keilmuan. Istilah memiliki makna yang tepat dan cermat serta digunakan hanya
untuk satu bidang tertentu, sedangkan nama masih bersifat umumkarena digunakan
tidak lebih dan tidak dalam bidang tertentu. Umpamanya kata telinga dan kuping sebagai nama dianggap bersinonim, tampak dari kenyataan
orang bisa mengatakan “kuping saya
sakit” yang sama saja dengan “telinga
saya sakit” tetapi dalam bidang kedokteran telinga
dan kuping digunakan sebagai acuan
yang berbeda; telinga adalah alat
pendengaran bagian dalam sedangkan kuping
adalah alat pendengaran bagian luar. Demikian juga dengan kata lengan dan tangan, keduanya bersinonim. Orang bisa mengatakan “dia jatuh, lengannya patah” atau “dia jatuh, tangannya patah” dengan acuan yang sama.
Sedangkan dalam bidang kedokteran keduanya berbeda, lengan adalah anggota tubuh dari bahu sampai pergelangan, dan tangan adalah dari pergelangan sampai ke
jari-jari.