Tampilkan postingan dengan label Syafaat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syafaat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

Penamaan, Pendefinisian dan Pengistilahan

Penamaan dan pendefinisian adalah dua buah proses pelambangan suatu konsep untuk mengacu pada suatu referen di luar bahasa. Kedua proses ini walaupun banyak kesamaannya tetapi banyak pula perbedaannya. Keduanya akan dibahas berikut ini.
A.    Penamaan
Nama itu sama dengan lambang untuk sesuatu yang dilambangkannya, maka berarti pemberian nama itu pun bersifat arbitrer, tidak ada hubungan wajib sama sekali. Pemberian nama adalah soal konvensi atau perjanjian belaka di antara sesama anggota suatu masyarakat bahasa (Ariestoteles 384-322 SM). Secara kontemporer masih didapati sebab-sebab atau peristiwa yang melatarbelakangi terjadinya penamaan atau penyebutan terhadap sejumlah kata yang ada dalam leksikon bahasa Indonesia. Berikut ini akan dibicarakan beberapa diantaranya.
1.      Peniruan Bunyi
Nama-nama benda atau hal tertentu dibentuk berdasarkan bunyi atau suara yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Misalnya :
Cicak dibentuk dari suaranya “cak, cak, cak”, Tokek dibentuk dari suaranya “tokek, tokek”, Burung gagak dibentuk dari suaranya “gak, gak”
Contoh lain meong nama untuk kucing, gukguk nama untuk anjing. Menurut bahasa kanak-kanak adalah karena bunyinya begitu. Hal seperti ini disebut kata peniru bunyi atau onomatope.
Kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi ini tidak semuanya sama persis, hanya mirip saja, mengapa? Pertama, karena benda atau binatang yang mengeluarkan bunyi tidak memiliki alat fisiologis seperti manusia. Kedua, karena fonologi setiap bahasa tidak sama. Itulah sebabnya, mengapa orang Sunda menirukan kokok ayam jantan sebagai [kongkorongok], orang Melayu Jakarta sebagai [kukuruyuk], sedangkan orang Belanda sebagai [kukeleku].
2.      Penyebutan Bagian
Dalam bidang kesusastraan ada istilah pars pro toto gaya bahasa yang menyebutkan bagian dari suatu benda atau hal, padahal yang dimaksud adalah keseluruhannya. Misal, kata kepala “setiap kepala menerima bantuan seribu rupiah” sebenarnya yang dimaksud adalah bukan kepala manusia melainkan setiap orang.
Kebalikan dari pars pro toto adalah gaya retorika yang disebut totem pro perte  yaitu menyebutkan keseluruhan untuk sebagian. Misalnya, “Indonesia memenangkan medali perak Olimpiade” sebenarnya yang dimaksud hanyalah beberapa orang dari Indonesia yang meraihnya.
3.      Penyebutan Sifat Khas
Hampir sama dengan pars pro toto yang dibicarakan di atas adalah penamaan suatu benda berdasarkan sifat yang khas yang ada pada benda itu. Di sini terjadi perkembangan yaitu berupa ciri makna yang disebut dengan kata sifat itu mendesak kata bendanya, karena sifatnya yang amat menonjol sehingga kata sifat itulah yang menjadi nama subjek atau bendanya. Misal, orang yang sangat kikir lazim disebut si kikir. Di dalam dunia politik dulu ada istilah golongan kanan dan golongan kiri. Maksudnya adalah golongan agama dan golongan komunis.
4.      Penemu dan Pembuat
Appelativa adalah nama benda yang dibuat berdasarkan nama penemunya. Nama-nama yang dibuat berdasarkan nama orang antara lain: kondom yaitu sejenis alat kontrasepsi yang dibuat oleh Dr. Condom; mujair  adalah sejenis nama ikan air tawar yang ditemukan oleh seorang petani bernama Mujair di Kediri, Jawa Timur. Kata sandwich, yaitu roti dengan mentega dan daging di dalamnya, berasal dari nama seorang bangsawan Inggris Sandwich. Dia seorang penjudi berat yang selalu membawa bekal berupa roti seperti di atas agar dia dapat makan sambil tetap bermain.
5.      Tempat Asal
Sejumlah nama benda dapat ditelusuri berdasarkan dari mana tempat asal benda tersebut. Misalnya kata magnit berasal dari nama tempat Magnesia; kata kenari nama sejenis burung dari nama pulau kenari di Afrika; kata sarden nama sejenis ikan berasal dari nama pulau Sardiniadi Italia.
Selain itu banyak juga kata kerja yang dibentuk dari nama tempat misalnya, didigulkan yang berarti dibuang ke Digul di Irian Jaya, dinusakambangkan yang berarti dipenjarakan di Pulau Nusa Kambangan, kata dipasarkan jelas berasal dari kata pasar.
6.      Bahan
Nama benda yang namanya diambil dari nama bahan pokok benda itu. Misalnya, karung yang dibuat dari goni yaitu sejenis serat tumbuh-tumbuhan yang dalam bahasa latin disebut Corchorus capsularis disebut goni atau guni. Jadi kalau dikatakan membeli beras dua goni, maksudnya membeli beras dua karung.
7.      Keserupaan
Dalam praktek berbahasa banyak kata yang digunakan secara metaforis. Artinya kata itu digunakan dalam suatu ujaran yang maknanya dipersamakan atau diperbandinkan dengan makna leksikal dari kata itu. Misalnya kata kaki pada frase kaki meja, kaki gunung, dan kaki kursi. Di sini kaki mempunyai kesamaan makna dengan salah satu ciri makna dari kata kaki yaitu “alat penopang berdirinya tubuh” pada frase kaki meja dan kaki kursi, dan ciri “terletak pada bagian bawah” pada frase kaki gunung.
8.      Pemendekan
Dalam perkembangan bahasa terakhir ini banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia yang terbentuk sebagai hasil penggabungan unsur-unsur huruf awal atau sukukata dari beberapa kata yang digabungkan menjadi satu. Misalnya, abri yang berasal dari angkatan Bersenjata Republik Indonesia; koni berasal dari Komite Olahraga Nasional Indonesia; monas yang berasal dari Monumen Nasional.
Kata-kata yang terbentuk sebagai hasil penyingkatan ini lazim disebut akronim. Kata-kata akronim ini hampir didapati di setiap bidang kegiatan. Contoh, lemhanas berasal dari lembaga pertahanan nasional, inkopol berasal dari induk koperasi polisi, pemda berasal dari pemerintah daerah.
9.      Penamaan Baru
Dewasa ini banyak kata atau istilah baru yang dibentuk untuk menggantikan kata atau istilah lama yang sudah ada. Kata atau istilah lma yang sudah ada itu perlu diganti dengan kata atau istilah baru, atau sebutan baru, karena dianggap kurang tepat, tidak rasional, kurang halus dan sebagainya. Misalnya, kata parawisata untuk mengganti turisme; wisatawan untuk mengganti turis atau pelancong; kata darmawisata untuk mengganti piknik; dan kata suku cadang untuk mengganti onderdile. Kata turisme, turis atau pelancong, piknik, onderdile dianggap tidak bersifat nasional. Karena itu perlu diganti dengan yang bersifat nasional.

B.     Pendefinisian
Pendefinisian adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk mengungkapkan dengan kata-kata akan suatu benda, konsep, proses, aktivitas, peristiwa, dan sebagainya.
Banyak cara untuk membuat definisi ini. Hasil yang didapat dari cara-cara pendefinisian ini adalah adanya beberapa macam definisi yang berbeda-beda. Diantara lain macam-macam  pendefinisian adalah :
-          Definisi Sinonimis : didefinisikan dengan sebuah kata lain yang merupakan sinonim dari kata itu. Contoh, kata bapak dan ayah, tirta dan air.
-          Definisi formal : didefinisikan dengan cara menyebutkan terlebih dahulu cirri umumnya lalu disebutkan pula ciri khususnya. Contoh :
Konsep                      Ciri Umum                              Ciri khusus
Bis                             kendaraan umum                     dapat memuat banyak penumpan
Pensil                                    alat tulis                                   terbuat dari kayu dan arang

-          Definisi Logis : mengindentifikasikan secara tegas objek, ide atau konsep yang didefinisikan itu sedemikian rupa, sehingga objek tersebut berbeda secara nyata dengan objek-objek lain. Contoh,
Air adalah zat cair yang jatuh dari awan sebagai hujan, mengaliri sungai, menggenangi danau dan lautan, merupakan unsur pokok dari kehidupan, campuran oksida hydrogen H2O, tanpa bau, tanpa rasa dan tanpa warna, tapi tampak kebiru-biruan pada lapisan yang tebal, membeku pada suhu nol derajat Celcius, mendidih pada suhu 100 derajat Celcius, mempunyai berat jenis maksimum pada 4 derajat Celcius.

-          Definisi Ensiklopedis : Pendefinisian yang lebih luas, lengkap, jelas serta cermat akan segala sesuatu yang berkenaan dengan kata atau konsep yang didefinisikan.

-          Definisi Operasional : definisi yang sifatnya membatasi. Misalnya :

a. Yang dimaksud dengan air dalam tulisan ini adalah zat cair yang merupakan kebutuhan hidup manusia sehari-hari seperti makan, minum, mandi dan cuci.
b. Yang dimaksud dengan air dalam pembahasan ini adalah segala zat cair yang terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan, baik yang ada dalam batang (tebu), maupun yang ada di dalam buah.

C.     Pengistilahan
Berbeda dengan proses penamaan atau penyebutan yang lebih banyak berlangsung secara arbitrer, maka pengistilahan lebih banyak berlangsung menurut prosedur. Karena butuh suatu ketepatan dan kecermatan makna untuk suatu bidang kegiatan atau keilmuan. Istilah memiliki makna yang tepat dan cermat serta digunakan hanya untuk satu bidang tertentu, sedangkan nama masih bersifat umumkarena digunakan tidak lebih dan tidak dalam bidang tertentu. Umpamanya kata telinga dan kuping sebagai nama dianggap bersinonim, tampak dari kenyataan orang bisa mengatakan “kuping saya sakit” yang sama saja dengan “telinga saya sakit” tetapi dalam bidang kedokteran telinga dan kuping digunakan sebagai acuan yang berbeda; telinga adalah alat pendengaran bagian dalam sedangkan kuping adalah alat pendengaran bagian luar. Demikian juga dengan kata lengan dan tangan, keduanya bersinonim. Orang bisa mengatakan “dia jatuh, lengannya patah” atau “dia jatuh, tangannya patah” dengan acuan yang sama. Sedangkan dalam bidang kedokteran keduanya berbeda, lengan adalah anggota tubuh dari bahu sampai pergelangan, dan tangan adalah dari pergelangan sampai ke jari-jari.


Rabu, 21 Desember 2011

Sedikit Mengenal Nagham Quran



1. Bayati : Lagu ini cenderung nada rendah-naik-dan makin naik berkarakter netral tidak riang atau tidak terlalu sedih. Banyak dipakai pada lagu-lagu qosidah, sholawat, bacaan sholat, dzikir dsb. Karena sifatnya yang netral.
2. Shobah : Lagu lebih memberi kesan memperkenalkan rasa ungkapan, keluhan dan ratapan cenderung sedang naik sedikit lalu turun. Umumnya banyak juga yang menggunakan untuk lagu takbir lebaran.
3. Hijaz : Lagu ini menunjukan satu penekanan pada penggambaran cerita, memperkenalkan, mempertegas ungkapan, berpola sedang-naik-naik lalu turun melandai iramannya. Banyak digunakan untuk lagu adzan, sholawat, irama gambus dll.
4. Nahawan : Lagu ini sedikit berkarakter jelas perbedaannya dengan lagu lainnya, banyak mencerminkan irama jenaka dan riang, dimana ujung lagunya terasa banyak cengkok lekukan drastis cepat. Banyak dipakai dalam lagu qosidah, sholawat, bahkan bacaan sholat.

5.  Rhas : Lagu ini terkesan kuat suara, tegas, tajam dan nada cenderung dari datar lalu naik dan naik terus sampai nada tinggi. Banyak dipakai lagu untuk adzan, bacaan sholat, takbiran dsb.

6. Jiharka :Ini merupakan lagu yang indentik transisi antara Rhoss terkesan nahwan riang dan hampir mirif Sikka (lagu ini yang banyak dikatakan para Qori-Qoriah cukup sulit dibawakan karena sifatnya yang semi dan transisi antara Rhas dan Sikka) biasanya sering dipakai di Sholawat, takbiran, dsb.

7. Sikka : Lagu ini banyak bernuansa rasa kesedihan, keprihatianan dengan karakter nada agak rendah pelan naik dan makin naik. Banyak dipakai pada berbagai kepentingan karena tidak menuntut nada tinggi dan sederhana.
Ditutup dengan Bayati Kuflah yang cenderung nada menurun.

Minggu, 18 Desember 2011

Organ Cinta

Hari itu, ketika tubuhku pada metabolismenya yang terendah…

Mataku berakomodasi tak percaya…
Benarkah yang tertangkap oleh nervi optici-ku??

Dalam sms mu…
Katamu, akulah nukleus kehidupanmu…
Katamu, jika kau flagelatta, maka akulah ATP…
Katamu, jika kau inflamasi, akulah prostaglandin…

Sadarkah kau??
Kau berhasil membuatku mengalami hipertensi fisiologis dan tachycardi
Perintahkan membrana tympani mu mendengar seluruh discuss vertebralis ku berkata…

Setiap cardiac output-ku membutuhkan pacemaker darimu.
Setiap detail gerakan glossus-mu merangsang saraf simpatisku.

Ucapan selamat malammu laksana diazepam…
Ucapan “jangan menangis, sayang”-mu bagaikan valium bagiku…
Dan ketika kau pergi…terasa bagaikan imunosupresi untukku…

Seni Baca Alquran


Seni baca Al Qur’an ialah bacaan Al Qur’an yang bertajwid diperindah oleh irama
dan lagu. Al Qur’an tidak lepas dari lagu. Di dalam melagukan Al Qur’an atau taghonni dalam membaca Al Qur’an akan lebih indah bila diwarnai dengan macam-macam lagu. Untuk melagukan Al Qur’an , para ahli qurro di Indonesia membagi lagu atas 7 ( tujuh ) macam bagian. Antara lain sebagai berikut :


1. Bayati
2. Shoba
3. Hijaz
4. Nahawand
5. Rost
6. Jiharkah
7. Sikah




Dari 7 ( tujuh ) macam lagu di atas masih dibagi dalam beberapa cabang. Macam-macam lagu dan cabangnya antara lain :


1. Bayati
a. Qoror
b. Nawa
c. Jawab
d. Jawabul jawab
e. Nuzul ( turun ) - shu’ud ( naik )
2. Shoba
a. Dasar
b. Ajami/Ala Ajam






3. Hijaz
a. Dasar
b. Kard
c. Kurd
d. Kard-Kurd

4. Nahawand
a. Dasar
b. Jawab
c. Nakriz
d. Usysyaq


e. Variasi

5. Rost
a. Dasar
b. Nawa/Rost ala Nawa


6. Jiharkah
a. Nawa
b. Jawab



7. Sikah
a. Dasar  b. Iraqi c. Turqi d. Raml (fals)
Dalam MTQ ( Musabaqoh Tilawatil Qur’an ) ada beberapa materi penilaian. Antara lain :
a. Penilaian Umum
1. Materi penilaian bidang tajwid, terdiri dari :
a. Makharijul huruf
b. Shifatul huruf
c. Ahkamul huruf
d. Ahkamul mad wal qoshr
2. Materi penilaian bidang fashohah dan adab, terdiri dari :
a. Al Waqf wal – ibtida
b. Muroatul kalimat wal kharokat
c. Muroatul kalimat wal ayat
d. Adabut tilawah
3. Materi penilaian bidang irama dan suara, terdiri dari :
a. Suara
b. Irama dan variasi
c. Keutuhan dan tempo lagu
d. Pengaturan nafas

b. Kesalahan dalam bidang suara dan irama


1. Kesalahan dalam suara terdiri dari :
a. Suara kasar
b. Suara pecah
c. Suara parau
d. Suara lemah
2. Kesalahan dalam irama terdiri dari :
a. lagu yang tidak utuh
b. tempo lagu yang terlalu cepat/lambat
c. irama dan variasi yang tidak indah
d. pengaturan nafas yang tidak terkendali



c. Kesalahan dalam bidang Tajwid serta Fashohah dan adab ada dua macam :
1. Kesalahan Jali, yaitu kesalahan yang dapat merusak makna dan merusak ketentuan tajwid/ qiroat yang sah. Disebut Jali karena kesalahan itu diketahui oleh ahli qiroat
maupun yang bukan ahlinya
2. Kesalahan Khafi, yaitu kesalahan yang merusak ketentuan tajwid/qiroat, tetapi
tidak merusak makna. Disebut Khafi karena hanya diketahui oleh ulama ahli qiroat
saja.

Mari belajar Arab


1. Amir kedatangan seorang tamu bernama Mahmud dari Malang.

يا عامر!
Hai Amir!.
لبّيك, من انت؟ تفضّل ادخل! من اين انت؟
Ya, siapakah anda? Silahkan masuk! Dari mana kamu datang?.
اسمي محمود, من ما لانج
Namaku Mahmud, dari Malang.
                                                                                                                                               اين ابوك؟
Di manakah ayahmu?.
أبى في سورابايا
Ayahku di Surabaya.
هل هو عجوز؟
Apakah dia sudah tua?.
نعم, وابيضّ سعر رأسه
Ya, dan rambut kepalanya sudah putih.
كيف يمشى ابوك؟
Bagaimanakah (cara) jalan ayahmu?.
يمشى متوكّأ
Dia berjalan dengan bertongkat.
هل منعته والدتك عن الذّهاب؟
Apakah ibumu melarang ayahmu pergi?.
نعم, خوفا عليه من خطر السّيّارة
Ya, takut (adanya) bahaya tabrakan mobil.



2. Syu’aib dipanggil kakaknya disuruh mengambilkan secangkir kopi.

 تعال ياشعيب!
Syu’aib, kemarilah!
 لبّيك!
Ya! (aku penuhi panggilanmu).
هات القهوة
Ambillah kopi!.
عفوا, انكسر الفنجان
Maaf, cangkirnya pecah!.
إذن, اذهب الى السّوك واشتر لنا فناجين

Kalau begitu pergilah ke pasar dan belilah cangkir-cangkir buat kami!.
ارسل أخي, أنا مشغول
Suruhlah saudaraku aku (sedang) sibuk.
أين أخوك؟
Di manakah saudaramu?
أخي فى المدرسة
Saudaraku di sekolah.
لماذا تأخّر عن موعده؟
Kenapa ia terlambat pulang?.
عنده احتفال غدا
Ia mempunyai perayaan besok.
احتفال ماذا؟
Perayaan apa?.
احتفال بنهاية السّنة الدّراسيّة
Perayaan akhir tahun ajaran sekolah.

هل جرى الإمتهان؟
Apakah ujian telah berlangsung?.
جرى منذ أسبوع
Telah berjalan sejak seminggu.
هل حضرت الإمتحان؟
Apakah engkau telah menghadiri ujian itu?
نعم, وفرحت بنجاح اخي
Ya, dan aku senang dengan lulusnya saudaraku.


3. Seorang anak mengajak tamannya untuk bermain-main dan berolah-raga agar hilang kesusahannya.

اين تذهب كلّ يوم يا أخي؟
Ke manakah engkau pergi setiap harinya, hai kawan?
ما خرجت من دارى
Aku tidak keluar rumah.
لم هذا الكسل؟
Mengapakah bermalas-malasan seperti ini?
بكثرة الهموم
Karena aku banyak kesedihan.
دع الآفكار جانبا!
Buanglah pikiran-pikiran itu jauh-jauh.
بماذا أدفع؟
Dengan apa aku menolaknya?                                                                                            
بالعمل النّشاط والرّياضة
Dengan kerja giat dan berolah-raga.
صدقتت, إنّ العقل السّليم في الجسم السّليم
Benar, bahwa akal sehat ada pada badan sehat.


4. Hamdan menjenguk temannya yang sakit

لم غبت بالآمس؟
Mengapa engkau tidak hadir kemarin?
لآنّي مريض
Kemarin aku sakit.
ما مرضك؟
Sakit apa?
عندي صداع شديد
Aku sangat sakit pening.
هل ذهبت الى الطبيب؟
Apakah kamu pergi ke dokter
نعم, ذهبت
Ya, aku pergi.
ماذا اعطاك؟
Apa yang diberikan padamu?
أعطاني دواء
Dia memberiku obat.
ماذا قال لك؟
Apa yang ia katakan padamu?
قال لي: الزم فراشك!
Dia mengatakan padaku : Istirahatlah engkau di ranjang!



5. Seorang anak menunjukan kepada temannya bahwa saudaranya sedang pergi ke sekolah.

صباح الخير!
Selamat pagi.
صباح السّرور
Selamat pagi.
هل افطرت؟
Apakah kamu sudah sarapan?
نعم, افطرت
Ya, aku sudah sarapan.
مع من افطرت؟
Bersama siapakah anda sarapan?
افطرت مع اهلي
Aku bersarapan bersama keluargaku.
أين أخوك؟
Di manakah saudaramu?
هذا أخي
Ini saudaraku!
ما اسمه
Siapakah namanya?
اسمه محمّد
Namanya Muhammad
أين هو ذاهب؟
Ke manakah ia pergi?
ذاهب إلى المدرسة
Dia pergi ke sekolah.
أين أختك؟
Dimana saudaramu yang perempuan?
أختي في البيت
Saudaraku di rumah.
ماذا تعمل؟
Apa yang ia lakukan?
تكتب درسها
Dia (perempuan) sedang menulis pelajarannya.


 6. Mahmud menunjukan kepada hasan bahwa teman-temannya sedang bermain di lapangan.

اين اصحابك يا محمّد
Mahmud, di manakah kawan-kawanmu?
ذهبوا إلى الميدان
Mereka semua pergi ke lapangan.
ماذا يعملون هناك؟
Apa yang mereka lakukan disana?
يلعبون
Mereka bermain.
متى يرجعونن؟
Kapan mereka kembali?
سيرجعون مساء
Mereka akan kembali sore hari.
لم لم يذهبوا إلى المدرسة؟
Mengapa mereka tidak pergi ke sekolah?
لآنّ اليوم, يوم عطلة
Karena hari ini libur.

Selasa, 06 Desember 2011

تاريخ الأدب العربي الحديث والمعاصر في الجزائر

مقدمة:
إن أصول الحداثة في الأدب الجزائري ترجع إلى النصف الأول من القرن التاسع عشر حين كان ارتباط الحركة الأدبية في المغرب العربي بالمشرق العربي قائما، وقد بدأت النهضة في الوطن العربي، عموما باستلهام التراث العربي المشترك في عصور ازدهاره الأولى ، منطلقة من إحياء أمهات الكتب، في هذا التراث والاستفادة من عناصر القوة فيه، إلى جانب ما بدأت تسهم به حركة الترجمة والنقل ، والطباعة والنشر، والانفتاح على الثقافة الأوروبية عموما.

وإن كان من رواد الحركة الأدبية الحديثة في المشرق العربي، محمود سامي البارودي ( 1838 – 1904 م ) فإن الأمير عبد القادر الجزائري يعتبر من روادها في المغرب العربي عموما، و في الجزائر خصوصا ، فهما معا يمثلان مدرسة الإحياء و التجديد، و قد اشتركا في صفات البطولة في الشعر و في الحرب، فكل منهما خاض المعارك في ميدان القتال ن كما عانا كلاهما المنفى و الغربة، فقضى ( البارودي ) سبع عشر سنة منفيا في جزيرة ( سرنديب ) لاشتراكه في الثورة العربية، وعانى (عبد القادر) المنفى في (فرنسا) و الغربة في (بروسة) ثم ( دمشق) بعد الغدر به على إثر استسلامه عندما فقد ( الساعد و المعاضد) كما قال.

وكلا الرجلين في الأخير – مع بعض الاختلاف – متصل بالتراث الأدبي العربي عموما و الشعري خصوصا في عصوره الزاهية، يستوحيانه ويستمدانه في الإنشاد ، مع روح تجديدية متوثبة فكرة وشعورا وطريقة كما عكسه (البارودي ) في مثل قوله :


أسير على نهج يرى الناس غيره
لكل امرئ فيما يحاول مذهب
شدا هذا في ( مصر ) كما شدا ( عبد القادر) في ( الجزائر) أثناء حياته ، إبان قيادة الكفاح والمقاومة في فترة كانت الثقافة العربية و الحركة الدبية في الجزائر ذات حيوية، كما كان التعليم منتشرا و العربية سليمة من العجمة و الضعف، و هو الوضع الذي بدأ يتراجع بمجيء الاحتلال، حيث بدأ تشجيع الأمية بتوطد الاحتلال ، و يضعف المستوى الأدبي بانزواء رجال الأدب أو صمتهم و هجرة بعضهم ، خاصة بعد نفي (الأمير) من ( الجزائر) لهذا تبقى فترته فترة حداثة أدبية ، كما يبقى شعره ممثلا لهذه الفترة، و إلى جانبه أصوات شعرية في مقدمتها صديقه الأديب القاضي ( محمد الشاذلي القسنطيني) ( 1807 – 1877 م ).

أما في النثر الخاص بهذه الفترة – و قد احتفظ برونقه – فتبرز أمامنا عدة أسماء مختلفة فكرا و منهجا ، في مقدمة هذه الأسماء : ( حمدان بن عثمان خوجه ) ( 1773 – 1840م ) صاحب كتاب ( المرأة ) ذو الفكر النير و الروح القومية المتوثبة ،و محمد بن العنابي و كتابه "السعي المحمود في نظام الجنود " و قدور بن رويلة" في كتاب بعنوان" وشاح الكتائب و زينة الجيش المحمدي الغالب .

غير أن زعامة الحركة الأدبية عموما تبقى في هذه الفترة أيضا للأمير عبد القادر خصوصا بشعره الذي اختلفت ألوانه : ثوريات واخوانيات و غزليات ، فخرا و تصوفا و تأملا و وصفا، و هي ألوان اختلفت حجما أو كثافة و مستويات فنية .

فالأمير عبد القادر من جيل النهضة الحديثة في الوطن العربي ، مسك بزعامة السيف وزعامة الشعر، في وطنه، ضمن الخلود في ذاكرة التاريخ بجهاده ومواقفه الإنسانية، وبأعماله وآثاره الفكرية والدينية و الأدبية.

بانتهاء فترة الأمير(عبد القادر) لنفي رجال علم وأدب و هجرة بعضهم، و انزواء بقية نزلِ ظلام دامس على الحركة الثقافية و الفكرية والأدبية و من صميمها الحركة التعليمية، و قد اختفى الحس الوطني في الأدب كطاقة شحن و دفع ، وتسرب اليأس إلى النفوس الكسيرة، وهي ترى دمار الاحتلال يمتد إلى كل شيء و لا يسلم منه شيء، فيشيع الفقر والجهل ويصادر وسائل المعرفة و التعليم في الأوقاف والزوايا وغيرها، فضعف المستوى الأدبي في النهاية، و شاعت فيه الركاكة، وغزته العجمة في التعبير والتركيب، وسرعان ما تحول جانب كبير في شكله هذا إلى بوق يخدم الاستعمار الفرنسي .

مثلث الانتكاسية السياسية ثم الثقافية والفكرية والأدبية فترة انكماش ثقافي أشبه بالغيبوبة، شعر فيها الإنسان الجزائري بالغبن و الانكسار المادي والمعنوي ، وهو ما شمل الكتاب و الأدباء الذين هم بطبيعتهم أكثر إحساسا بالمعاناة الوطنية بكل امتداداتها تحت الاحتلال النصراني الظالم المتعجرف ، فامتد ذلك حتى أواخر القرن التاسع عشر حين بدأ يسري في المجتمع انتعاش واعد باستئناف النهوض بعد الانكسار بفعل عوامل مختلفة داخلية و خارجية، فمن العوامل الخارجية إدراك الجزائريين الذين كانوا يترددون على أوروبا و فرنسا خصوصا الفروق الظالمة بين سياسة ( فرنسا ) في وطنها، وسياستها في ( الجزائر) كما لعبت الصلة بالشرق العربي دورا بارزا بفضل الصحف والنشريات التي كانت تسرب في التراب الوطني فتدعو إلى اليقظة والنهوض عربيا، ومن بينها صحيفة( المؤيد ) المصرية التي يقول عنها ( سعد الدين بن أبي شنب ) إنها ابتداء من سنة 1307ه (1889م) أخذت تدعو إلى اليقظة و إصلاح المفاسد المتفشية بين العرب، و حب الحرية و الثورة على الاستبداد الاستعماري ، فكانت الصحف و المجلات تأتيهم ( الجزائريين ) مباشرة من مصر، أو تصل إليهم عن طريق غير مباشر أي طريق تونس حيث كانت المراقبة الفرنسية أخف وطأة وأقل تشديدا من طريق المغرب الذي كان لا يزال يتمتع باستقلاله أو ما بين حقائب الحجاج عند رجوعهم من البلاد المقدسة بعد أداء مناسك الحج أو العمرة، و كان كل عدد من تلك النشرات يزيدهم شجاعة وإيمانا بمستقبلهم العربي الإسلامي، فمن أثار تلك الروابط الروحية و العقلية بين الشرق والجزائر في ذلك الزمان أن أحدثت منذ القرن الرابع عشر و حركة علمية أدبية تنتمي إلى النهضة الشرقية من ناحية وتقتدي بها، و من ناحية أخرى تقلد أساليب الغرب العملية في البحث .

أما الحركة الأدبية ، فقد عرفت بعد هذه المرحلة و بالذات ابتداء من الأمير عبد القادر تطورا ملحوظا ، حيث تحرر النثر الجزائري من الجمود و التبخر ...

على هذه الصورة نكون قد قمنا برحلة طويلة مع النثر الجزائري الحديث و غامرنا في سياحات ممتعة اطلعنا من خلالها على تراث متعدد الأشكال، و الأساليب و المضامين . ويمكننا أن نسجل بعض الملاحظات أو النتائج نوجزها فيما يلي :

أولا: النثر الجزائري الحديث قد تحرر منذ مدة مبكرة من الجمود و التحجر الذي سيطر على الأدب العربي في القرون الماضية ، و الفضل في هذا يرجع إلى أدباء القرن الماضي ابتداء من الأمير عبد القادر .

ثانيا: - إن اللغة العربية رغم ضعفها و رغم الظروف التي عاشتها تحت الاستعمار استطاعت أن تعبر عن مشاعر الكتاب و تنقل إلينا ما كان يجري في الفترة التي عرضنا لها بالدرس و التحليل .

ثالثا:- تطور الأسلوب الأدبي تطورا واضحا في القرن الحالي بسبب احتكاك الكتاب بالعالم الخارجي .
رابعا:- ظهور أشكال أدبية نثرية جديدة لم تكن موجودة في القرن الماضي فيما يتعلق بالنثر.

كل ذلك مما ساعد على صفاء اللغة ومرونتها وصقلها بحيث عكست تجارب خصبة ومتنوعة لدى الكتاب و المنشئين ، وهذه ميزة في النثر قد لا نعثر عليها في الشعر الجزائري الحديث إلا في السنوات الأخيرة لأن الشعراء ارتبطوا بالتراث ارتباطا كليا و إذا كانوا قد جددوا في الموضوعات و المضامين فإن معظمهم بقي يجول في دائرة القدماء . بينما الكتاب تحرروا من سيطرة الماضي ومن سحره إلى حد كبير ربما لأن لغته تختلف عن لغة النثر، و ربما لأن قيود الشعر أثقل من قيود النثر.

ولكن المهم أن كتاب النثر أسهموا بقوة في تطور اللغة الأدبية و في أسلوب الأدب. بحيث يمكن أن نتتبع هذا التطور من خلال اللغة ومن خلال الأشكال الأدبية، بحيث نلحظ ضعفا في هذه اللغة و أسلوب الكتابة فيها أثناء القرن التاسع عشر خاصة في الرحلات وفي المقامة ولأن اللغة في ذلك الوقت انحسر مدها تحت ضعف اللغة و الثقافة الأجنبية وتحت وطأة الاستعمار الفرنسي بينما في عصر النهضة و الانبعاث و في عصر الإحياء أخذت تسترد مكانها وقدرتها على البيان والتصوير. ونلحظ هذا التطور من عقد إلى آخر من خلال المقال والقصة و المسرحية و غيرها، لأن الأدباء تنوعت ثقافتهم و تجاربهم حتى جاءت الحرب الثانية ثم الثورة ثم جاء الاستقلال فنجد أن هذه اللغة تتطور باستمرار وتسعى إلى أن تصبح أداة مرنة من جهة، و تعبيرا عن شخصية الشعب الجزائري العربي من جهة أخرى فاكتملت صورتها في أيامنا هذه و هي في طريقها إلى أن تخطو إلى الأمام وتتحرر من رواسب الماضي وتحتل مكانتها التي حرمت منها طويلا .

خامسا: - أن النثر الجزائري صور واقع المجتمع و القضايا التي عاشها الكتاب أكثر من قرن و نصف ، و نقل إلينا ما يلقى الضوء على المراحل التي مر بها المجتمع و الصراعات المختلفة التي ظهرت في البيئة الجزائرية و سجل نظرة الأدباء و الكتاب لهذه القضايا بحيث يمكن أن تعتبر نصوصه شواهد على هذا الماضي الطويل الذي عاشه الشعب الجزائري تحت نير الاستعمار، وأيضا عكس فرحة الشعب وأحلامه أيام الثورة وبعد الاستقلال .

وحين يصبح الأدب شاهدا على العصر الذي وجد فيه فإنه يكون تعبيرا عن الواقع من جهة وتعبيرا عن الصدق من جهة أخرى. و لقد كان النثر الجزائري صادقا في قوته وضعفه في جموده و تطوره ، كان كذلك من خلال الأشكال الأدبية النثرية القديمة والحديثة والنماذج التي عرضنا لها، تؤكد أن الكاتب كان ملتزما باستمرار ومنحازا للشعب وللقومية وللعقيدة وكذلك كان أدبا من اجل الإنسان والجمال والخير ومن اجل الحياة.