Rabu, 13 Juni 2012

Potret Manusia Dalam Surat Alfatihah (Teori Emotion Intelegen Goldmant)


Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Teori Aplikasi Sastra II
Pengampu : Dr. Bermawi Munthe M.A

Disusun oleh :
Syafa’at Syareh Syifa
(09110049)

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012




A. PENDAHULUAN
            Surat Al-Fatihah merupakan jalan pembuka dalam menelusuri hukum-hukum dalam alquran, isi dalam kandungannya menghantarkan pada petunjuk hidup manusia. Manusia tidak lepas dari petunjuk, arahan serta bimbingan. Karena hidup adalah pilihan dan pilihan yang menentukan kehidupan selanjutnya. Maka dari itu manusia berusaha untuk melintas di jalan yang benar, meski demikian rintangan yang dihadapi cukup sulit dan kadang mereka merasa nyaman dengan kesesatan. Dalam hal ini penulis akan mencoba menerawang keadaan manusia dengan menggunakan teori psikologi goldmant.
Psikologi berasal dari perkataan Yunani ‘psyche’ yang artinya jiwa, dan ‘logos’ yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologis (menurut arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Jadi, sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik (Ahmadi, 2003: 1). Psikologi sastra merupakan suatu pendekatan yang mempertimbangkan segi-segi kejiwaan dan menyangkut batiniah manusia.
            Teori Psikolog Goldmant salah satunya adalah membuat kerangka kerja emosi yang mengolah suatu teks dan mengungkap psikologi manusia atau tokoh di dalamnya. Melalui teori ini penulis akan mengungkap latar belakang kejiwaan atau potret manusia dalam surat Alfatihah.
B. PEMBAHASAN
Potret Manusia Dalam Surat Alfatihah
(Teori Emotion Intelegen Goldmant)
1. Kesadaran Diri
            Manusia selalu ragu atau kurang yakin terhadap apa yang harus ditempuh. Seperti halnya bayi yang baru lahir dan ia belum tahu apa-apa hingga ia bergantung pada ibunya. Manusia amatlah lemah tanpa kasih sayang Allah manusia tidak akan bisa hidup.          
Dikala hendak melakukan sesuatu, manusia sudah berfikir tentang efek atau akibat yang akan menimpanya, baik maupun yang buruk.
            Di dalam surat Al-Fatihah, dengan menggunakan teori Gold Mant, manusia berkarakter ingin selalu diberikan petunjuk jalan hidupnya agar apa yang ia tempuh berada dalam jalan yang benar sesuai dengan aturan. Hal ini terdapat dalam ayat “IHDINASSHIRATALMUSTAQIM“.  Sadar bahwa mereka masih labil, amat fakir dari petunjuk yang lurus.
2. Pengaturan Diri
            Kendali diri : Mengindikasikan manusia harus bisa menguasai dirinya dari segala nafsu, jangan sampai selalu menuruti apa yang nafsu rasakan. Ketika manusia tidak bisa mengendalikan dirinya, membuat mereka sesat atas perbuatannya.
            Kehati-hatian : Dengan ancaman Allah dan dengan pengalaman sejarah atas orang-orang sebelumnya tentang akibat dari perbuatan orang-orang yang sesat sehingga membuat mereka menderita hingga pada akhirnya mereka harus waspada dengan tidak akan mengulangi kesalahan yang selanjutnya. Terbukti dalam ayat “GHAIRIL MAGHDUBI ‘ALAIHIM WALADDHAALLIM”. Digambarkan dalam surat tersebut manusia tidak menginginkan hidupnya menderita dengan diberikannya kesesatan.
            Adabtabilitas : Manusia pada umumnya tidak lepas dari sifat orang tuanya karena mengikuti atau belajar dari kehidupan mereka. Dengan faktor lingkungan, sosial dan  keinginan yang mendasar atas kenikmatan yang telah diberikan pada orang-orang yang beruntung, maka mereka yang menginginkan akan sesuatu tersebut harus berusaha mengikuti jalan mereka yang telah diberikan kenikmatan oleh Allah agar bisa seperti mereka. Tercantum dalam ayat “ALLADZINA AN’AMTA ‘ALAIHIM”.
3. Motifasi      
Inovasi : Alquran mampu mencatat kejadian, sejarah yang ada. Mencatat kehidupan manusia, gambaran kehidupan manusia yang diberikan rahmat maupun azab dari Allah. Terbukti dalam kutipan ayat “shirathal ladzina an’amta ‘alaihim….”
            Dorongan Prestasi : Bermacam-macam langkah yang ditempuh manusia demi mencapai suatu tujuan atau cita-cita. Dalam ayat tersebut manusia terdorong oleh rasa keinginan. Kenikmatan hidup di dunia dan akhirat menjadi faktor dalam prestasi yang akan dicapai. Langkah yang dijalani adalah bermunajat memohon kepada sang pencipta disertai usaha agar diberikan apa yang diinginkan.
            Komitmen : Tetap berada dalam jalan yang lurus dengan mengikuti aturan yang telah dilakukan orang-orang yang telah diberikan kenikmatan, hingga pada akhirnya keinginannya itu bisa tercapai.
            Inisiatif : Kesadaran dari diri manusia untuk merubah hidupnya dari keterpurukan. Semuanya harus ada usaha untuk keluar dari hal tersebut. Maka dari itu inisiatif niat harus ditonjolkan dalam diri dan fokus terhadap cita-cita yang dicapai.
            Optimis : Berpegang pada komitmen, prestasi yang akan dicapai, manusia bertahan dalam jalan yang benar dan yakin akan keberhasilan yang akan dicapai.
4. Kecakapan Sosial
Memahami orang lain : Memahami orang ternyata tidak mudah. Sebab, banyak faktor yang menentukan sifat dan perilaku mereka. Setiap orang memiliki jalan pikiran yang berbeda-beda. Perbedaan itu  disebabkan oleh  banyak hal, misalnya oleh latar belakang pekerjaan yang berbeda, pendidikan, agama,  kepentingan dan kebutuhan, dan lain-lain. Seorang petani akan memiliki pikiran yang berbeda dari pedagang. Pedagang berbeda dari seorang guru. Begitu pula seorang guru akan berbeda dari seorang murid atau juga mahasiswa.
Dalam hal ini manusia dalam surat Alfatihah ini mampu memahami situasi dan kondisi orang lain. Karena manusia dibekali akal pikiran yang mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Manusia mengenal orang lain yang dilanda azab kesesatan disamping itu ia juga mengenali orang lain yang diberikan petunjuk jalan yang lurus.
            Memanfaatkan keragaman : dengan memahami isi surat tersebut manusia menyimpulkan bahwa betapa banyak keragaman dalam hidup yang sempurna jika kita patuh kepada Tuhan yang Maha Esa.
            Orientasi Pelayanan : Di sini manusia sangat berusaha untuk mengantisipasi jalan keburukan dengan takut pada kemurkaan Allah. Mereka patuh dan taqwa kepada Allah yakni menjalankan segala perintahnya serta menjauhi segala larangannya. “Ghairil Maghdubi ‘aliahim Waladhdhaallin”.

C.KESIMPULAN
Keadaan manusia tidak semuanya sempurna, mereka yang diberikan kesempurnaan kadang tidak bisa mensyukuri atas nikmat yang telah diberikan. Kenikmatan yang tidak disadari akan kedatangannya datang melalui makhluk-makhluk lain. Hati mereka telah dibutakan dengan nafsu duniawi, keserakahan dan kesombongan. Karena hal itulah mereka menjadi sesat dan mungkin tidak akan bisa kembali. Sedangkan mereka yang diberi kesederhanaan hidup akan menyadari dan mensyukuri atas segala yang telah diberikan.  Walaupun realitasnya mereka juga ingin merasakan kesempurnaan. Namun tidak semuanya bagi orang-orang yang diberikan kesederhanaan mampu mensyukuri hidupnya.
Dengan kesadaran akan kesesatan yang akan mereka lakukan, maka mereka patuh dan tunduk terhadap apa yang ada dalam alquran dan senantiasa menjadikan alquran sebagai pedoman hidup agar jalan yang ditempuh manusia senantiasa lurus dan selamat sampai tujuan. Selain itu, apa yang terkandung dalam alquran harus benar-benar dipahami maknanya. Melalui teori tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia harus berani menjalani hidup dengan hidup apa adanya harus mampu membuat diri manusia menjadi paham dan memiliki kesadaran diri, pengaturan diri agar mampu menempatkan tindakannya pada kondisi yang tepat dan berhati-hati dalam bertindak sehingga mampu beradabtasi dengan lingkungan yang dihadapi, memilki motivasi dan kecakapan sosial.


Sumber :
Hand Out Mata Kuliah Teori Aplikasi Sastra “Kerangka Kerja Kecakapan Emosi”

Senin, 07 Mei 2012

Ya Nabi Salam ‘Alaika


Intro
Solo : Ya Nabi salam ‘alaika   Ya Rasul salam ‘alaika
        Ya Habib salam ‘alaika        Shalawatullah ‘alaika
Koor : Ya Nabi salam ‘alaika Ya Rasul salam ‘alaika
Ya Habib salam ‘alaika        Shalawatullah ‘alaika
Melodi
Reff : Anta syamsun anta badrun Anta nurun fauq nuri
Anta iksiru waghali (Allahu Allah) Anta mishbahus shuduri
Koor : Ya Nabi salam ‘alaika Ya Rasul salam ‘alaika
Ya Habib salam ‘alaika        Shalawatullah ‘alaika
Melodi
Reff : Ya habibi ya Muhammad Ya a‘rusyal khafiqaini
Ya Mu’ayyad ya mumajjad (Allahu Allah) Ya imamal qiblataini
Koor : Ya Nabi salam ‘alaika Ya Rasul salam ‘alaika
Ya Habib salam ‘alaika        Shalawatullah ‘alaika
Ending