Makalah ini diajukan untuk
memenuhi tugas
Mata Kuliah Teori Aplikasi
Sastra II
Pengampu : Dr. Bermawi
Munthe M.A
Disusun oleh :
Syafa’at Syareh Syifa
(09110049)
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA
ARAB
FAKULTAS ADAB DAN ILMU
BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012
A. PENDAHULUAN
Surat
Al-Fatihah merupakan jalan pembuka dalam menelusuri hukum-hukum dalam alquran,
isi dalam kandungannya menghantarkan pada petunjuk hidup manusia. Manusia tidak
lepas dari petunjuk, arahan serta bimbingan. Karena hidup adalah pilihan dan pilihan yang menentukan
kehidupan selanjutnya. Maka dari itu manusia berusaha untuk melintas di jalan
yang benar, meski
demikian rintangan yang dihadapi cukup sulit dan kadang mereka merasa nyaman
dengan kesesatan. Dalam hal ini penulis akan mencoba menerawang keadaan
manusia dengan menggunakan teori psikologi goldmant.
Psikologi berasal dari perkataan
Yunani ‘psyche’ yang artinya jiwa, dan ‘logos’ yang artinya ilmu pengetahuan.
Jadi secara etimologis (menurut arti kata) psikologi artinya ilmu yang
mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya,
maupun latar belakangnya. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti
mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana.
Jadi, sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku
pengajaran yang baik (Ahmadi, 2003: 1). Psikologi sastra merupakan suatu
pendekatan yang mempertimbangkan segi-segi kejiwaan dan menyangkut batiniah
manusia.
Teori
Psikolog Goldmant salah satunya adalah membuat kerangka kerja emosi yang
mengolah suatu teks dan mengungkap psikologi manusia atau tokoh di dalamnya. Melalui
teori ini penulis akan mengungkap latar belakang kejiwaan atau potret manusia
dalam surat Alfatihah.
B. PEMBAHASAN
Potret Manusia Dalam Surat Alfatihah
(Teori Emotion Intelegen Goldmant)
1. Kesadaran Diri
Manusia
selalu ragu atau kurang yakin terhadap apa yang harus ditempuh. Seperti halnya
bayi yang baru lahir dan ia belum tahu apa-apa hingga ia bergantung pada
ibunya. Manusia amatlah lemah tanpa kasih sayang Allah manusia tidak akan bisa
hidup.
Dikala hendak melakukan sesuatu, manusia sudah berfikir tentang efek atau
akibat yang akan menimpanya, baik maupun yang buruk.
Di
dalam surat Al-Fatihah, dengan menggunakan teori Gold Mant, manusia berkarakter ingin selalu diberikan petunjuk jalan hidupnya agar apa yang ia
tempuh berada dalam jalan yang benar sesuai dengan aturan. Hal ini terdapat
dalam ayat “IHDINASSHIRATALMUSTAQIM“. Sadar bahwa mereka masih labil, amat fakir
dari petunjuk yang lurus.
2. Pengaturan Diri
Kendali
diri : Mengindikasikan manusia harus bisa menguasai dirinya dari segala nafsu,
jangan sampai selalu menuruti apa yang nafsu rasakan. Ketika manusia tidak bisa
mengendalikan dirinya, membuat mereka sesat atas perbuatannya.
Kehati-hatian
: Dengan ancaman Allah dan dengan pengalaman sejarah atas orang-orang sebelumnya
tentang akibat dari perbuatan orang-orang yang sesat sehingga membuat mereka
menderita hingga pada akhirnya mereka harus waspada dengan tidak akan
mengulangi kesalahan yang selanjutnya. Terbukti dalam ayat “GHAIRIL MAGHDUBI
‘ALAIHIM WALADDHAALLIM”. Digambarkan dalam surat tersebut manusia tidak
menginginkan hidupnya menderita dengan diberikannya kesesatan.
Adabtabilitas
: Manusia pada umumnya tidak lepas dari sifat orang tuanya karena mengikuti
atau belajar dari kehidupan mereka. Dengan faktor lingkungan, sosial dan keinginan yang mendasar atas kenikmatan yang
telah diberikan pada orang-orang yang beruntung, maka mereka yang menginginkan
akan sesuatu tersebut harus berusaha mengikuti jalan mereka yang telah
diberikan kenikmatan oleh Allah agar bisa seperti mereka. Tercantum dalam ayat “ALLADZINA AN’AMTA ‘ALAIHIM”.
3. Motifasi
Inovasi : Alquran mampu mencatat kejadian,
sejarah yang ada. Mencatat kehidupan manusia, gambaran kehidupan manusia yang
diberikan rahmat maupun azab dari Allah. Terbukti dalam kutipan ayat “shirathal ladzina an’amta ‘alaihim….”
Dorongan
Prestasi : Bermacam-macam langkah yang ditempuh manusia demi mencapai suatu
tujuan atau cita-cita. Dalam ayat tersebut manusia terdorong oleh rasa
keinginan. Kenikmatan hidup di dunia dan akhirat menjadi faktor dalam prestasi
yang akan dicapai. Langkah yang dijalani adalah bermunajat memohon kepada sang
pencipta disertai usaha agar diberikan apa yang diinginkan.
Komitmen
: Tetap berada dalam jalan yang lurus dengan mengikuti aturan yang telah
dilakukan orang-orang yang telah diberikan kenikmatan, hingga pada akhirnya
keinginannya itu bisa tercapai.
Inisiatif
: Kesadaran dari diri manusia untuk merubah hidupnya dari keterpurukan.
Semuanya harus ada usaha untuk keluar dari hal tersebut. Maka dari itu inisiatif
niat harus ditonjolkan dalam diri dan fokus terhadap cita-cita yang dicapai.
Optimis
: Berpegang pada komitmen, prestasi yang akan dicapai, manusia bertahan dalam
jalan yang benar dan yakin akan keberhasilan yang akan dicapai.
4. Kecakapan Sosial
Memahami orang lain : Memahami orang ternyata
tidak mudah. Sebab, banyak faktor yang menentukan sifat dan perilaku mereka. Setiap
orang memiliki jalan pikiran yang berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan oleh banyak hal, misalnya oleh latar belakang
pekerjaan yang berbeda, pendidikan, agama,
kepentingan dan kebutuhan, dan lain-lain. Seorang petani akan memiliki
pikiran yang berbeda dari pedagang. Pedagang berbeda dari seorang guru. Begitu
pula seorang guru akan berbeda dari seorang murid atau juga mahasiswa.
Dalam hal ini manusia dalam surat Alfatihah ini
mampu memahami situasi dan kondisi orang lain. Karena manusia dibekali akal
pikiran yang mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Manusia mengenal orang
lain yang dilanda azab kesesatan disamping itu ia
juga mengenali orang lain yang diberikan petunjuk jalan yang lurus.
Memanfaatkan
keragaman : dengan memahami isi surat tersebut manusia menyimpulkan bahwa
betapa banyak keragaman dalam hidup yang sempurna jika kita patuh kepada Tuhan
yang Maha Esa.
Orientasi
Pelayanan : Di sini manusia sangat berusaha untuk mengantisipasi jalan
keburukan dengan takut pada kemurkaan Allah. Mereka patuh dan taqwa
kepada Allah yakni menjalankan segala perintahnya serta menjauhi segala
larangannya. “Ghairil Maghdubi
‘aliahim Waladhdhaallin”.
C.KESIMPULAN
Keadaan manusia
tidak semuanya sempurna, mereka yang diberikan kesempurnaan kadang tidak bisa
mensyukuri atas nikmat yang telah diberikan. Kenikmatan yang tidak disadari
akan kedatangannya datang melalui makhluk-makhluk lain. Hati mereka telah
dibutakan dengan nafsu duniawi, keserakahan dan kesombongan. Karena hal itulah
mereka menjadi sesat dan mungkin tidak akan bisa kembali. Sedangkan mereka yang
diberi kesederhanaan hidup akan menyadari dan mensyukuri atas segala yang telah
diberikan. Walaupun realitasnya mereka
juga ingin merasakan kesempurnaan. Namun tidak semuanya bagi orang-orang yang
diberikan kesederhanaan mampu mensyukuri hidupnya.
Dengan
kesadaran akan kesesatan yang akan mereka lakukan, maka mereka patuh dan tunduk
terhadap apa yang ada dalam alquran dan senantiasa menjadikan alquran sebagai pedoman
hidup agar jalan yang ditempuh manusia senantiasa lurus dan selamat sampai
tujuan. Selain itu, apa yang terkandung dalam alquran harus benar-benar
dipahami maknanya. Melalui teori tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia harus
berani menjalani hidup dengan hidup apa adanya harus mampu membuat diri manusia
menjadi paham dan memiliki kesadaran diri, pengaturan diri agar mampu menempatkan
tindakannya pada kondisi yang tepat dan berhati-hati dalam bertindak sehingga
mampu beradabtasi dengan lingkungan yang dihadapi, memilki motivasi dan
kecakapan sosial.
Sumber :
Hand Out Mata Kuliah Teori
Aplikasi Sastra “Kerangka Kerja Kecakapan Emosi”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar