Semantik
Menurut Chomsky pada bukunya yang kedua (1965) menyatakan
bahwa
semantik adalah merupakan salah satu komponen dari tata
bahasa (dua komponen lain
adalah sintaksis dan fonologi) dan makna kalimat sangat
ditentukan oleh komponen
semantik.
1. HAKIKAT MAKNA
Pengertian atau makna yang dimiliki setiap morfem, baik yang
disebut
morfem dasar atau morfem afiks.
Mengingat bahasa itu bersifat arbitrer (bebas, tidak
terikat) maka hubungan
antara kata dan maknanya juga bersifat arbitrer. Di dalam
penggunaannya dalam
pertuturan nyata makna kata atau leksem itu seringkali dan
mungkin juga biasanya
terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga
acuannya. Oleh karena itu,
banyak pakar bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah
kata apabila kata
itu sudah berada dalam konteks kalimatnya.
2. JENIS MAKNA
a. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual
Makna Leksikal : makna yang dimiliki
atau pada leksem / kata meski
tampak tanpa konteks apapun atau makna yang
sebenarnya.
Makna Gramatikal : baru ada kalau
terjadi proses gramatikal. Contoh :
prefiks ber-
Makna Kontkestual : makna sebuah kata atau leksem yang berada
didalam
satu kompleks. (berkenaan dengan situasinya).
b. Makna Referensial dan Non-referensial
Makna referensial bisa terjadi jika kalau ada referensinya
atau acuannya dalam
dunia nyata.c. Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Makna Denotatif : makna asli, makna
asal, akna sebenarnya yang
dimilikioleh sebuah kata atau leksem.
Makna Konotatif : makna lain yang
ditambahkan atau makna kiasan.
d. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Makna Konseptual : makna yang dimiliki
oleh sebuah kata terlepas dari
konteks atau asosiasi apapun. Makna konseptual
sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal,
makna denotatif dan makna referensial.
Makna Asosiasi : makna lain yang
ditambahkan atau makna kiasan.
e. Makna kata dan Makna Istilah
Makna kata masih bersifat umum, kasar dan tidak jelas, baru
menjadi
jelas jika suatu kata itu sudah berada dalam konteks
kalimatnya / atau konteks
situasinya. Sedangkan
makna istilah mempuyai makna yang pasti, jelas, tidak
meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Sehingga sering
dikatakan bahwa
istilah itu bebas konteks sedangkan makna kata tidak bebas
konteks. Lebih lagi
istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan
tertentu.
f. Makna Idiom dan Peribahasa
Idiom adalah satuan ujaran yang
maknanya tidak dapat diramalkan dari
makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun
gramatikal.
Idiom dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Idiom penuh :
idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur
menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal
dari
seluruh kesatuan itu.
Contoh : membanting tulang, meja hijau.
2. Idiom sebagian :
idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki
makna leksikal sindiri.
Contoh : buku putih, terdiri dari dua makna, yakni
buku dan putih.
Peribahasa : idiom yang memiliki makna yang masih dapat
ditelusuri atau
dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi
antara makna asli dengan maknanya.3. RELASI MAKNA
Adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa
yang satu
dengan satuan bahasa yang lain.
Masalah-masalah yang dibicarakan pada relasi makna :
1. Sinonim : hubungan
semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna
antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya.
Contoh : benar = betul.
Faktor ketidaksamaan dua buah ujaran yang bersinonim
maknanya tidak akan
sama persis adalah :
1. Faktor waktu, contoh
: hulubalang dan komandan
2. Faktor tempat, contoh
: saya dan beta
3. Faktor keformalan, contoh
: uang dan duit
4. Faktor sosial, contoh
: saya dan aku
5. Faktor bidang kegiatan, contoh :
matahari dan surya
6. Faktor nuansa makna, contoh :
melihat, melirik, menonton
2. Antonim : hubungan
semantik dua buah satuan ujaran yang maknanya
menyatakan kebalikan, pertentangan dengan ujaran yang lain.
Contoh : hidup x mati
Jenis antonim :
1. Antonim yang bersifat mutlak, contoh : diam
x bergerak
2. Antonim yang bersifat relatif / bergradasi, contoh : jauh
x dekat
3. Antonim yang bersifat relasional, contoh : suami x istri
4. Antonim yang bersifat hierarkial, contoh :
tamtama x bintara
3. Polisemi
Adalah kata yang mempunyai makna lebih dari satu.
Contoh : kata
kepala : 1. Kepala yang berarti bagian tubuh yang bagian
atas.
2. Kepala yang
menyatakan pimpinan
4. 4.1 Homonim
Adalah dua kata kebetulan bentuk, ucapan, tulisannya sama
tetapi beda makna.
Contoh : Bisa
: 1. Bisa yang berarti racun
2. Bisa yang berarti
dapat atau mampu4.2 Homofon
Adalah dua kata yang mempunyai kesamaan bunyi tanpa
memperhatikan
ejaanya, dengan makna yang berbeda.
Contoh : 1. Bang
: sebutan saudara laki-laki
2. Bank : tempat penyimpanan dan pengkreditan uang
4.3 Homograf
Adalah dua kata yang memiliki ejaan sama, tetapi ucapan dan
maknanya beda.
Contoh : 1. Apel
: buah
2. Apél :
rapat, pertemuan
5. 5.1 Hiponim
Adalah sebuah bentuk ujaran yang mencakup dalam makna bentuk
ujaran lain.
5.2 Hipernim
Bagian dari hiponim.
Contoh : Hiponim :
buah-buahan
Hipernim dari
buah-buahan misalnya anggur.
6. Ambiguiti / Ketaksaan
Adalah gejala yang terjadi akibat kegandaan makna akibat
tafsiran gramatikal
yang berbeda. Tergantung jeda dalam kalimat.
7. Redundansi
Adalah berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam
suatu bentuk
ujaran
4. PERUBAHAN MAKNA
Ada 5 faktor yang menyebabkan makna sebuah kata berubah :
1. Perkembangan IPTEK
2. Perkembangan sosial budaya
3. Perkembangan pemahaman kata
4. Pertukaran tanggapan indera
5. Adanya asosiasi5. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA
a. Medan Makna (semantic domain, semantic field atau
semantic leksikal)
Adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling
berhubungan karena
menggambarkan bagian dari bidang dari kebudayaan / realitas
dalam alam
semesta tertentu.
Misal : nama-nama warna, nama-nama perkerabatan.
b. Komponen Makna
Adalah makna yang dimiliki oleh setiap kata terdiri dari
sejumlah komponen
yang membentuk keseluruhan makna.
Dalam menentukkan komponen makna yang diperlukan analisis
komponen
makna, manfaat dari analisis ini adalah :
1. Mencari perbedaan dari bentuk-bentuk yang bersinonim.
2. Membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi
dan
komposisi dalam bahasa Indonesia.
3. Meramalkan makna gramatikal.