Rabu, 21 Desember 2011

Sedikit Mengenal Nagham Quran



1. Bayati : Lagu ini cenderung nada rendah-naik-dan makin naik berkarakter netral tidak riang atau tidak terlalu sedih. Banyak dipakai pada lagu-lagu qosidah, sholawat, bacaan sholat, dzikir dsb. Karena sifatnya yang netral.
2. Shobah : Lagu lebih memberi kesan memperkenalkan rasa ungkapan, keluhan dan ratapan cenderung sedang naik sedikit lalu turun. Umumnya banyak juga yang menggunakan untuk lagu takbir lebaran.
3. Hijaz : Lagu ini menunjukan satu penekanan pada penggambaran cerita, memperkenalkan, mempertegas ungkapan, berpola sedang-naik-naik lalu turun melandai iramannya. Banyak digunakan untuk lagu adzan, sholawat, irama gambus dll.
4. Nahawan : Lagu ini sedikit berkarakter jelas perbedaannya dengan lagu lainnya, banyak mencerminkan irama jenaka dan riang, dimana ujung lagunya terasa banyak cengkok lekukan drastis cepat. Banyak dipakai dalam lagu qosidah, sholawat, bahkan bacaan sholat.

5.  Rhas : Lagu ini terkesan kuat suara, tegas, tajam dan nada cenderung dari datar lalu naik dan naik terus sampai nada tinggi. Banyak dipakai lagu untuk adzan, bacaan sholat, takbiran dsb.

6. Jiharka :Ini merupakan lagu yang indentik transisi antara Rhoss terkesan nahwan riang dan hampir mirif Sikka (lagu ini yang banyak dikatakan para Qori-Qoriah cukup sulit dibawakan karena sifatnya yang semi dan transisi antara Rhas dan Sikka) biasanya sering dipakai di Sholawat, takbiran, dsb.

7. Sikka : Lagu ini banyak bernuansa rasa kesedihan, keprihatianan dengan karakter nada agak rendah pelan naik dan makin naik. Banyak dipakai pada berbagai kepentingan karena tidak menuntut nada tinggi dan sederhana.
Ditutup dengan Bayati Kuflah yang cenderung nada menurun.

Minggu, 18 Desember 2011

Organ Cinta

Hari itu, ketika tubuhku pada metabolismenya yang terendah…

Mataku berakomodasi tak percaya…
Benarkah yang tertangkap oleh nervi optici-ku??

Dalam sms mu…
Katamu, akulah nukleus kehidupanmu…
Katamu, jika kau flagelatta, maka akulah ATP…
Katamu, jika kau inflamasi, akulah prostaglandin…

Sadarkah kau??
Kau berhasil membuatku mengalami hipertensi fisiologis dan tachycardi
Perintahkan membrana tympani mu mendengar seluruh discuss vertebralis ku berkata…

Setiap cardiac output-ku membutuhkan pacemaker darimu.
Setiap detail gerakan glossus-mu merangsang saraf simpatisku.

Ucapan selamat malammu laksana diazepam…
Ucapan “jangan menangis, sayang”-mu bagaikan valium bagiku…
Dan ketika kau pergi…terasa bagaikan imunosupresi untukku…

Seni Baca Alquran


Seni baca Al Qur’an ialah bacaan Al Qur’an yang bertajwid diperindah oleh irama
dan lagu. Al Qur’an tidak lepas dari lagu. Di dalam melagukan Al Qur’an atau taghonni dalam membaca Al Qur’an akan lebih indah bila diwarnai dengan macam-macam lagu. Untuk melagukan Al Qur’an , para ahli qurro di Indonesia membagi lagu atas 7 ( tujuh ) macam bagian. Antara lain sebagai berikut :


1. Bayati
2. Shoba
3. Hijaz
4. Nahawand
5. Rost
6. Jiharkah
7. Sikah




Dari 7 ( tujuh ) macam lagu di atas masih dibagi dalam beberapa cabang. Macam-macam lagu dan cabangnya antara lain :


1. Bayati
a. Qoror
b. Nawa
c. Jawab
d. Jawabul jawab
e. Nuzul ( turun ) - shu’ud ( naik )
2. Shoba
a. Dasar
b. Ajami/Ala Ajam






3. Hijaz
a. Dasar
b. Kard
c. Kurd
d. Kard-Kurd

4. Nahawand
a. Dasar
b. Jawab
c. Nakriz
d. Usysyaq


e. Variasi

5. Rost
a. Dasar
b. Nawa/Rost ala Nawa


6. Jiharkah
a. Nawa
b. Jawab



7. Sikah
a. Dasar  b. Iraqi c. Turqi d. Raml (fals)
Dalam MTQ ( Musabaqoh Tilawatil Qur’an ) ada beberapa materi penilaian. Antara lain :
a. Penilaian Umum
1. Materi penilaian bidang tajwid, terdiri dari :
a. Makharijul huruf
b. Shifatul huruf
c. Ahkamul huruf
d. Ahkamul mad wal qoshr
2. Materi penilaian bidang fashohah dan adab, terdiri dari :
a. Al Waqf wal – ibtida
b. Muroatul kalimat wal kharokat
c. Muroatul kalimat wal ayat
d. Adabut tilawah
3. Materi penilaian bidang irama dan suara, terdiri dari :
a. Suara
b. Irama dan variasi
c. Keutuhan dan tempo lagu
d. Pengaturan nafas

b. Kesalahan dalam bidang suara dan irama


1. Kesalahan dalam suara terdiri dari :
a. Suara kasar
b. Suara pecah
c. Suara parau
d. Suara lemah
2. Kesalahan dalam irama terdiri dari :
a. lagu yang tidak utuh
b. tempo lagu yang terlalu cepat/lambat
c. irama dan variasi yang tidak indah
d. pengaturan nafas yang tidak terkendali



c. Kesalahan dalam bidang Tajwid serta Fashohah dan adab ada dua macam :
1. Kesalahan Jali, yaitu kesalahan yang dapat merusak makna dan merusak ketentuan tajwid/ qiroat yang sah. Disebut Jali karena kesalahan itu diketahui oleh ahli qiroat
maupun yang bukan ahlinya
2. Kesalahan Khafi, yaitu kesalahan yang merusak ketentuan tajwid/qiroat, tetapi
tidak merusak makna. Disebut Khafi karena hanya diketahui oleh ulama ahli qiroat
saja.

Mari belajar Arab


1. Amir kedatangan seorang tamu bernama Mahmud dari Malang.

يا عامر!
Hai Amir!.
لبّيك, من انت؟ تفضّل ادخل! من اين انت؟
Ya, siapakah anda? Silahkan masuk! Dari mana kamu datang?.
اسمي محمود, من ما لانج
Namaku Mahmud, dari Malang.
                                                                                                                                               اين ابوك؟
Di manakah ayahmu?.
أبى في سورابايا
Ayahku di Surabaya.
هل هو عجوز؟
Apakah dia sudah tua?.
نعم, وابيضّ سعر رأسه
Ya, dan rambut kepalanya sudah putih.
كيف يمشى ابوك؟
Bagaimanakah (cara) jalan ayahmu?.
يمشى متوكّأ
Dia berjalan dengan bertongkat.
هل منعته والدتك عن الذّهاب؟
Apakah ibumu melarang ayahmu pergi?.
نعم, خوفا عليه من خطر السّيّارة
Ya, takut (adanya) bahaya tabrakan mobil.



2. Syu’aib dipanggil kakaknya disuruh mengambilkan secangkir kopi.

 تعال ياشعيب!
Syu’aib, kemarilah!
 لبّيك!
Ya! (aku penuhi panggilanmu).
هات القهوة
Ambillah kopi!.
عفوا, انكسر الفنجان
Maaf, cangkirnya pecah!.
إذن, اذهب الى السّوك واشتر لنا فناجين

Kalau begitu pergilah ke pasar dan belilah cangkir-cangkir buat kami!.
ارسل أخي, أنا مشغول
Suruhlah saudaraku aku (sedang) sibuk.
أين أخوك؟
Di manakah saudaramu?
أخي فى المدرسة
Saudaraku di sekolah.
لماذا تأخّر عن موعده؟
Kenapa ia terlambat pulang?.
عنده احتفال غدا
Ia mempunyai perayaan besok.
احتفال ماذا؟
Perayaan apa?.
احتفال بنهاية السّنة الدّراسيّة
Perayaan akhir tahun ajaran sekolah.

هل جرى الإمتهان؟
Apakah ujian telah berlangsung?.
جرى منذ أسبوع
Telah berjalan sejak seminggu.
هل حضرت الإمتحان؟
Apakah engkau telah menghadiri ujian itu?
نعم, وفرحت بنجاح اخي
Ya, dan aku senang dengan lulusnya saudaraku.


3. Seorang anak mengajak tamannya untuk bermain-main dan berolah-raga agar hilang kesusahannya.

اين تذهب كلّ يوم يا أخي؟
Ke manakah engkau pergi setiap harinya, hai kawan?
ما خرجت من دارى
Aku tidak keluar rumah.
لم هذا الكسل؟
Mengapakah bermalas-malasan seperti ini?
بكثرة الهموم
Karena aku banyak kesedihan.
دع الآفكار جانبا!
Buanglah pikiran-pikiran itu jauh-jauh.
بماذا أدفع؟
Dengan apa aku menolaknya?                                                                                            
بالعمل النّشاط والرّياضة
Dengan kerja giat dan berolah-raga.
صدقتت, إنّ العقل السّليم في الجسم السّليم
Benar, bahwa akal sehat ada pada badan sehat.


4. Hamdan menjenguk temannya yang sakit

لم غبت بالآمس؟
Mengapa engkau tidak hadir kemarin?
لآنّي مريض
Kemarin aku sakit.
ما مرضك؟
Sakit apa?
عندي صداع شديد
Aku sangat sakit pening.
هل ذهبت الى الطبيب؟
Apakah kamu pergi ke dokter
نعم, ذهبت
Ya, aku pergi.
ماذا اعطاك؟
Apa yang diberikan padamu?
أعطاني دواء
Dia memberiku obat.
ماذا قال لك؟
Apa yang ia katakan padamu?
قال لي: الزم فراشك!
Dia mengatakan padaku : Istirahatlah engkau di ranjang!



5. Seorang anak menunjukan kepada temannya bahwa saudaranya sedang pergi ke sekolah.

صباح الخير!
Selamat pagi.
صباح السّرور
Selamat pagi.
هل افطرت؟
Apakah kamu sudah sarapan?
نعم, افطرت
Ya, aku sudah sarapan.
مع من افطرت؟
Bersama siapakah anda sarapan?
افطرت مع اهلي
Aku bersarapan bersama keluargaku.
أين أخوك؟
Di manakah saudaramu?
هذا أخي
Ini saudaraku!
ما اسمه
Siapakah namanya?
اسمه محمّد
Namanya Muhammad
أين هو ذاهب؟
Ke manakah ia pergi?
ذاهب إلى المدرسة
Dia pergi ke sekolah.
أين أختك؟
Dimana saudaramu yang perempuan?
أختي في البيت
Saudaraku di rumah.
ماذا تعمل؟
Apa yang ia lakukan?
تكتب درسها
Dia (perempuan) sedang menulis pelajarannya.


 6. Mahmud menunjukan kepada hasan bahwa teman-temannya sedang bermain di lapangan.

اين اصحابك يا محمّد
Mahmud, di manakah kawan-kawanmu?
ذهبوا إلى الميدان
Mereka semua pergi ke lapangan.
ماذا يعملون هناك؟
Apa yang mereka lakukan disana?
يلعبون
Mereka bermain.
متى يرجعونن؟
Kapan mereka kembali?
سيرجعون مساء
Mereka akan kembali sore hari.
لم لم يذهبوا إلى المدرسة؟
Mengapa mereka tidak pergi ke sekolah?
لآنّ اليوم, يوم عطلة
Karena hari ini libur.

Doa Buka Usaha

Bismillahirrohmanirrohim...

Ketika kita memulai suatu perkara dengan niat yang baik, alangkah afdhal'y berdoa terlebih dahulu agar semua yang dilakukan itu berkah dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. amiin....!!

Adab membaca doa lebih baik terlebih dahulu baca Basmalah, Istigfar, baca Syahadatain, shalawat atas nabi, kemudian doa sekehendakmu.

                                                                   Shalawat Munjiyat

اللهم صلى على سيدنا محمد صلاة تنجينا بها  من جميع الاهوال والافات وتقضي لنا بها جميع الحاجات وتطهرنا بها  من جميع السيئات وترفعنا بها عندك اعلى الدرجات وتبلغنا بها اقصى الغايات من جميع الخيرات في الحيات وبعدالممات

"Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammadin shalaatan tunjiina biha min jami'il ahwaali wal aafaat, wataqdi lana biha jami'al haajaat, watuthahhiruna biha min jami'issayyiaat watarfa'una biha 'indaka a'laddarojaat, watuballiguna biha aqshal ghayaati min jamii'il khairaat fil hayaati wa ba'dal mamaati"

Shalawat Nariyyah

أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“Allohumma sholli shollatan kamilah wa sallim salaman. Taman ‘ala sayyidina Muhammadiladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil kurobu. Wa tuqdhobihil hawa iju wa tunna lu bihiro ‘ibu wa husnul khowatim wa yustaqol ghomawu biwaj hihil kariim wa ‘ala aalihi washosbihi fii kulli lamhatin wa hafasim bi’adadi kulli ma’luu mi laka ya robbal ‘aalamiin”

اَللَّهُمَّ كَمَا لَطَفْتَ فِى عَظَمَتِكَ دُونَ اللُّطَفَاءِ، وَعَلوْتَ بِعَظَمَتِكَ عَلَى الْعُظَمَاءِ ، وَعَلِمْتَ مَاتَحْتَ أَرْضِكَ كَعِلْمِكَ بِمَا فَوْقَ عَرْشِكَ ، وَكَانَتْ وَسَاوِسُ الصُدُورِ كَاْلعَلاَنِيَّةِ عِنْدَكَ ، وَعَلاَنِيَّةُ اْلقَوْلِ كَالسِّرِ فِى عِلْمِكَ ، وَانْقَادَ كُلُّ شَىْءٍ لِعَظَمَتِكَ ، وَخَضَعَ كُلُّ ذِى سُلْطَانٍ لسُلْطَانِكَ ، وَصَارَ أَمْرُ الدُّنْيَا والْأَخِرَةِ كُلُّهُ بِيَدِكَ، اِجْعَلْ لِى مِنْ كُلِّ هَمٍ أَصْبَحْتُ أَوْ أَمْسَيْتُ فِيهِ فَرَجًا وَمَخْرَجًا، اللَّهُمَّ إِنَّ عَفْوَكَ عَنْ ذُنُوبِى ، وَتَجَاوَزَكَ عَنْ خَطِيئَتىِ ، وَسِتْرَكَ عَلَى قَبِيحِ عَمَلِى ، أَطمِعْني أَنْ أَسْألَكَ مَا لاَ أَسْتَوْجِبُهُ مِنْكَ مِمَّا قَصَّرْتُ فِيهِ ، أَدْعُوكَ اَمِنًا وَأَسْألُكَ مُسْتَأْنِسًا . وَإِنَّكَ الْمُحْسِنُ إِلَىَّ، ، وَأَنَا الْمُسِيئُ إلىَ نَفْسِى فِيِمَا بَيْنِى وَبَيْنِكَ ، تَتَوَدَّدُ إِلىَّ بِنِعْمَتِكَ، وَأَتَبَغَّضُ إلَيْكَ بِالْمعَاصِى، وَلَكِنَّ الثِّقَةَ بِكَ حَمَلَتْنِى علَى الْجَرَاءَةِ عَلَيْكَ، فَعُدْ بِفَضْلِكَ وإحْسَانِكَ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الَّرَحِيم، وَصَلَّى الله ُعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ .



Makalah Linguistik (Semantik)


Semantik
Menurut Chomsky pada bukunya yang kedua (1965) menyatakan bahwa
semantik adalah merupakan salah satu komponen dari tata bahasa (dua komponen lain
adalah sintaksis dan fonologi) dan makna kalimat sangat ditentukan oleh komponen
semantik.
1. HAKIKAT MAKNA
Pengertian atau makna yang dimiliki setiap morfem, baik yang disebut
morfem dasar atau morfem afiks.
Mengingat bahasa itu bersifat arbitrer (bebas, tidak terikat) maka hubungan
antara kata dan maknanya juga bersifat arbitrer. Di dalam penggunaannya dalam
pertuturan nyata makna kata atau leksem itu seringkali dan mungkin juga biasanya
terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. Oleh karena itu,
banyak pakar bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata
itu sudah berada dalam konteks kalimatnya.
2. JENIS MAKNA
a. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual
 Makna Leksikal : makna yang dimiliki atau pada leksem / kata meski
tampak tanpa konteks apapun atau makna yang
sebenarnya.
 Makna Gramatikal : baru ada kalau terjadi proses gramatikal. Contoh :
prefiks ber-
 Makna Kontkestual :   makna sebuah kata atau leksem yang berada didalam
satu kompleks. (berkenaan dengan situasinya).
b. Makna Referensial dan Non-referensial
Makna referensial bisa terjadi jika kalau ada referensinya atau acuannya dalam
dunia nyata.c. Makna Denotatif dan Makna Konotatif
 Makna Denotatif : makna asli, makna asal, akna sebenarnya yang
dimilikioleh sebuah kata atau leksem.
 Makna Konotatif : makna lain yang ditambahkan atau makna kiasan.
d. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
 Makna Konseptual : makna yang dimiliki oleh sebuah kata terlepas dari
konteks atau asosiasi apapun. Makna konseptual
sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal,
makna denotatif dan makna referensial.
 Makna Asosiasi : makna lain yang ditambahkan atau makna kiasan.
e. Makna kata dan Makna Istilah
Makna kata masih bersifat umum, kasar dan tidak jelas, baru menjadi
jelas jika suatu kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya / atau konteks
situasinya.  Sedangkan makna istilah mempuyai makna yang pasti, jelas, tidak
meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Sehingga sering dikatakan bahwa
istilah itu bebas konteks sedangkan makna kata tidak bebas konteks. Lebih lagi
istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.
f. Makna Idiom dan Peribahasa
 Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari
makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun gramatikal.
Idiom dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Idiom penuh  : idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur
menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari
seluruh kesatuan itu.
Contoh  :  membanting tulang, meja hijau.
2. Idiom sebagian :  idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki
makna leksikal sindiri.
Contoh  :  buku putih, terdiri dari dua makna, yakni buku dan putih.
 Peribahasa  : idiom yang memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau
dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi
antara makna asli dengan maknanya.3. RELASI MAKNA
Adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu
dengan satuan bahasa yang lain.
Masalah-masalah yang dibicarakan pada relasi makna  :
1. Sinonim :  hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna
antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya.
Contoh : benar = betul.
Faktor ketidaksamaan dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan
sama persis adalah  :
1. Faktor waktu, contoh  :  hulubalang dan komandan
2. Faktor tempat, contoh  :  saya dan beta
3. Faktor keformalan, contoh  :  uang dan duit
4. Faktor sosial, contoh  :  saya dan aku
5. Faktor bidang kegiatan, contoh  :  matahari dan surya
6. Faktor nuansa makna, contoh  :  melihat, melirik, menonton
2. Antonim :  hubungan semantik dua buah satuan ujaran yang maknanya
menyatakan kebalikan, pertentangan dengan ujaran yang lain.
Contoh  :  hidup x mati
Jenis antonim  :
1. Antonim yang bersifat mutlak, contoh  :  diam x bergerak
2. Antonim yang bersifat relatif / bergradasi, contoh  :  jauh x dekat
3. Antonim yang bersifat relasional, contoh :  suami x istri
4. Antonim yang bersifat hierarkial, contoh  :  tamtama x bintara
3. Polisemi
Adalah kata yang mempunyai makna lebih dari satu.
Contoh  : kata kepala  : 1.  Kepala yang berarti bagian tubuh yang bagian atas.
2.  Kepala yang menyatakan pimpinan
4. 4.1  Homonim
Adalah dua kata kebetulan bentuk, ucapan, tulisannya sama tetapi beda makna.
Contoh  :  Bisa   :  1.  Bisa yang berarti racun
2.  Bisa yang berarti dapat atau mampu4.2  Homofon
Adalah dua kata yang mempunyai kesamaan bunyi tanpa memperhatikan
ejaanya, dengan makna yang berbeda.
Contoh  :  1. Bang  :  sebutan saudara laki-laki
2. Bank  :  tempat penyimpanan dan pengkreditan uang
4.3  Homograf
Adalah dua kata yang memiliki ejaan sama, tetapi ucapan dan maknanya beda.
Contoh  : 1.  Apel  :  buah
2.  Apél  :  rapat, pertemuan
5. 5.1  Hiponim
Adalah sebuah bentuk ujaran yang mencakup dalam makna bentuk ujaran lain.
5.2 Hipernim
Bagian dari hiponim.
Contoh  : Hiponim  :  buah-buahan
Hipernim  dari buah-buahan misalnya anggur.
6. Ambiguiti / Ketaksaan
Adalah gejala yang terjadi akibat kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal
yang berbeda. Tergantung jeda dalam kalimat.
7. Redundansi
Adalah berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk
ujaran
4. PERUBAHAN MAKNA
Ada 5 faktor yang menyebabkan makna sebuah kata berubah  :
1. Perkembangan IPTEK
2. Perkembangan sosial budaya
3. Perkembangan pemahaman kata
4. Pertukaran tanggapan indera
5. Adanya asosiasi5. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA
a. Medan Makna (semantic domain, semantic field atau semantic leksikal)
Adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena
menggambarkan bagian dari bidang dari kebudayaan / realitas dalam alam
semesta tertentu.  Misal : nama-nama warna, nama-nama perkerabatan.
b. Komponen Makna
Adalah makna yang dimiliki oleh setiap kata terdiri dari sejumlah komponen
yang membentuk keseluruhan makna.
Dalam menentukkan komponen makna yang diperlukan analisis komponen
makna, manfaat dari analisis ini adalah  :
1. Mencari perbedaan dari bentuk-bentuk yang bersinonim.
2. Membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi dan
komposisi dalam bahasa Indonesia.
3. Meramalkan makna gramatikal.

Teori Musik


Teori musik
Teori musik merupakan cabang ilmu yang menjelaskan unsur-unsur musik. Cabang ilmu ini mencakup pengembangan dan penerapan metode untuk menganalisis maupun menggubah musik, dan keterkaitan antara notasi musik dan pembawaan musik.
Hal-hal yang dipelajari dalam teori musik mencakup misalnya suara, nada, notasi, ritme, melodi, Kontrapun Musik, harmoni, Bentuk Musik, Teori Mencipta Lagu, dlsb.
Suara
Teori musik menjelaskan bagaimana suara dinotasikan atau dituliskan dan bagaimana suara tersebut ditangkap dalam benak pendengarnya. Dalam musik, gelombang suara biasanya dibahas tidak dalam panjang gelombangnya maupun periodenya, melainkan dalam frekuensinya. Aspek-aspek dasar suara dalam musik biasanya dijelaskan dalam tala (Inggris: pitch, yaitu tinggi nada), durasi (berapa lama suara ada), intensitas, dan timbre (warna bunyi).
Nada
Suara dapat dibagi-bagi ke dalam nada yang memiliki tinggi nada atau tala tertentu menurut frekuensinya ataupun menurut jarak relatif tinggi nada tersebut terhadap tinggi nada patokan. Perbedaan tala antara dua nada disebut sebagai interval. Nada dapat diatur dalam tangga nada yang berbeda-beda. Tangga nada yang paling lazim adalah tangga nada mayor, tangga nada minor, dan tangga nada pentatonik. Nada dasar suatu karya musik menentukan frekuensi tiap nada dalam karya tersebut. Nada dalam teori musik diatonis barat diidentifikasikan menjadi 12 nada yang masing-masing diberi nama yaitu nada C,D,E,F,G,A dan B. Serta nada-nada kromatis yaitu Cis/Des, Dis/Es, Fis/Ges, Gis/As, dan Ais/Bes.
Ritme
Ritme adalah pengaturan bunyi dalam waktu. Birama merupakan pembagian kelompok ketukan dalam waktu. Tanda birama menunjukkan jumlah ketukan dalam birama dan not mana yang dihitung dan dianggap sebagai satu ketukan. Nada-nada tertentu dapat diaksentuasi dengan pemberian tekanan (dan pembedaan durasi).
Notasi
Notasi musik merupakan penggambaran tertulis atas musik. Dalam notasi balok, tinggi nada digambarkan secara vertikal sedangkan waktu (ritme) digambarkan secara horisontal. Kedua unsur tersebut membentuk paranada, di samping petunjuk-petunjuk nada dasar, tempo, dinamika, dan sebagainya.


Melodi
Melodi adalah serangkaian nada dalam waktu. Rangkaian tersebut dapat dibunyikan sendirian, yaitu tanpa iringan, atau dapat merupakan bagian dari rangkaian akord dalam waktu (biasanya merupakan rangkaian nada tertinggi dalam akord-akord tersebut).
Melodi terbentuk dari sebuah rangkaian nada secara horisontal. Unit terkecil dari melodi adalah Motif. Motif adalah tiga nada atau lebih yang memiliki maksud atau makna musikal. Gabungan dari Motif adalah Semi Frase, dan gabungan dari Semi Frase adalah Frase (Kalimat). Sebuah Melodi yang paling umum biasanya terdiri dari dua Semi Frase yaitu kalimat tanya (Antisiden) dan kalimat jawab (Konsekuen).
Harmoni
Harmoni secara umum dapat dikatakan sebagai kejadian dua atau lebih nada dengan tinggi berbeda dibunyikan bersamaan, walaupun harmoni juga dapat terjadi bila nada-nada tersebut dibunyikan berurutan (seperti dalam arpeggio). Harmoni yang terdiri dari tiga atau lebih nada yang dibunyikan bersamaan biasanya disebut akord.

Semantik


Beberapa Pengertian Tentang Semantik
Pandangan yang bermacam-macam dari para ahli mejadikan para ahli memiliki perbedaan dalam mengartikan semantik. Pengertian semantik yang berbeda-beda tersebut justru diharapkan dapat mngembangkan disiplin ilmu linguistik yang amat luas cakupannya.

1. Charles Morrist
Mengemukakan bahwa semantik menelaah “hubungan-hubungan tanda-tanda dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut”.
2. J.W.M Verhaar; 1981:9
Mengemukakan bahwa semantik (inggris: semantics) berarti teori makna atau teori arti, yakni cabang sistematik bahasa yang menyelidiki makna atau arti.
3. Lehrer; 1974: 1
Semantik adalah studi tentang makna. Bagi Lehrer, semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas, karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat dan antropologi.
4. Kambartel (dalam Bauerk, 1979: 195)
Semantik mengasumsikan bahwa bahasa terdiri dari struktur yang menampakan makna apabila dihubungkan dengan objek dalam pengalaman dunia manusia.
5. Ensiklopedia britanika (Encyclopedia Britanica, vol.20, 1996: 313)
Semantik adalah studi tentang hubungan antara suatu pembeda linguistik dengan hubungan proses mental atau simbol dalam aktifitas bicara.
6. Dr. Mansoer Pateda
Semantik adalah subdisiplin linguistik yang membicarakan makna.
7. Abdul Chaer
Semantik adalah ilmu tentang makna atau tentang arti. Yaitu salah satu dari 3 (tiga) tataran analisis bahasa (fonologi, gramatikal dan semantik).
8. Ferdinand de Saussure (1966)
Semantik terdiri dari:
1. Komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk dan bunyi bahasa.
2. Komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu.
9. Drs. Aminuddin, M.Pd
Semantik mengandung pengertian studi tentang makna dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari bahasa, maka semantic merupakan bagian dari linguistik.


Selasa, 06 Desember 2011

تاريخ الأدب العربي الحديث والمعاصر في الجزائر

مقدمة:
إن أصول الحداثة في الأدب الجزائري ترجع إلى النصف الأول من القرن التاسع عشر حين كان ارتباط الحركة الأدبية في المغرب العربي بالمشرق العربي قائما، وقد بدأت النهضة في الوطن العربي، عموما باستلهام التراث العربي المشترك في عصور ازدهاره الأولى ، منطلقة من إحياء أمهات الكتب، في هذا التراث والاستفادة من عناصر القوة فيه، إلى جانب ما بدأت تسهم به حركة الترجمة والنقل ، والطباعة والنشر، والانفتاح على الثقافة الأوروبية عموما.

وإن كان من رواد الحركة الأدبية الحديثة في المشرق العربي، محمود سامي البارودي ( 1838 – 1904 م ) فإن الأمير عبد القادر الجزائري يعتبر من روادها في المغرب العربي عموما، و في الجزائر خصوصا ، فهما معا يمثلان مدرسة الإحياء و التجديد، و قد اشتركا في صفات البطولة في الشعر و في الحرب، فكل منهما خاض المعارك في ميدان القتال ن كما عانا كلاهما المنفى و الغربة، فقضى ( البارودي ) سبع عشر سنة منفيا في جزيرة ( سرنديب ) لاشتراكه في الثورة العربية، وعانى (عبد القادر) المنفى في (فرنسا) و الغربة في (بروسة) ثم ( دمشق) بعد الغدر به على إثر استسلامه عندما فقد ( الساعد و المعاضد) كما قال.

وكلا الرجلين في الأخير – مع بعض الاختلاف – متصل بالتراث الأدبي العربي عموما و الشعري خصوصا في عصوره الزاهية، يستوحيانه ويستمدانه في الإنشاد ، مع روح تجديدية متوثبة فكرة وشعورا وطريقة كما عكسه (البارودي ) في مثل قوله :


أسير على نهج يرى الناس غيره
لكل امرئ فيما يحاول مذهب
شدا هذا في ( مصر ) كما شدا ( عبد القادر) في ( الجزائر) أثناء حياته ، إبان قيادة الكفاح والمقاومة في فترة كانت الثقافة العربية و الحركة الدبية في الجزائر ذات حيوية، كما كان التعليم منتشرا و العربية سليمة من العجمة و الضعف، و هو الوضع الذي بدأ يتراجع بمجيء الاحتلال، حيث بدأ تشجيع الأمية بتوطد الاحتلال ، و يضعف المستوى الأدبي بانزواء رجال الأدب أو صمتهم و هجرة بعضهم ، خاصة بعد نفي (الأمير) من ( الجزائر) لهذا تبقى فترته فترة حداثة أدبية ، كما يبقى شعره ممثلا لهذه الفترة، و إلى جانبه أصوات شعرية في مقدمتها صديقه الأديب القاضي ( محمد الشاذلي القسنطيني) ( 1807 – 1877 م ).

أما في النثر الخاص بهذه الفترة – و قد احتفظ برونقه – فتبرز أمامنا عدة أسماء مختلفة فكرا و منهجا ، في مقدمة هذه الأسماء : ( حمدان بن عثمان خوجه ) ( 1773 – 1840م ) صاحب كتاب ( المرأة ) ذو الفكر النير و الروح القومية المتوثبة ،و محمد بن العنابي و كتابه "السعي المحمود في نظام الجنود " و قدور بن رويلة" في كتاب بعنوان" وشاح الكتائب و زينة الجيش المحمدي الغالب .

غير أن زعامة الحركة الأدبية عموما تبقى في هذه الفترة أيضا للأمير عبد القادر خصوصا بشعره الذي اختلفت ألوانه : ثوريات واخوانيات و غزليات ، فخرا و تصوفا و تأملا و وصفا، و هي ألوان اختلفت حجما أو كثافة و مستويات فنية .

فالأمير عبد القادر من جيل النهضة الحديثة في الوطن العربي ، مسك بزعامة السيف وزعامة الشعر، في وطنه، ضمن الخلود في ذاكرة التاريخ بجهاده ومواقفه الإنسانية، وبأعماله وآثاره الفكرية والدينية و الأدبية.

بانتهاء فترة الأمير(عبد القادر) لنفي رجال علم وأدب و هجرة بعضهم، و انزواء بقية نزلِ ظلام دامس على الحركة الثقافية و الفكرية والأدبية و من صميمها الحركة التعليمية، و قد اختفى الحس الوطني في الأدب كطاقة شحن و دفع ، وتسرب اليأس إلى النفوس الكسيرة، وهي ترى دمار الاحتلال يمتد إلى كل شيء و لا يسلم منه شيء، فيشيع الفقر والجهل ويصادر وسائل المعرفة و التعليم في الأوقاف والزوايا وغيرها، فضعف المستوى الأدبي في النهاية، و شاعت فيه الركاكة، وغزته العجمة في التعبير والتركيب، وسرعان ما تحول جانب كبير في شكله هذا إلى بوق يخدم الاستعمار الفرنسي .

مثلث الانتكاسية السياسية ثم الثقافية والفكرية والأدبية فترة انكماش ثقافي أشبه بالغيبوبة، شعر فيها الإنسان الجزائري بالغبن و الانكسار المادي والمعنوي ، وهو ما شمل الكتاب و الأدباء الذين هم بطبيعتهم أكثر إحساسا بالمعاناة الوطنية بكل امتداداتها تحت الاحتلال النصراني الظالم المتعجرف ، فامتد ذلك حتى أواخر القرن التاسع عشر حين بدأ يسري في المجتمع انتعاش واعد باستئناف النهوض بعد الانكسار بفعل عوامل مختلفة داخلية و خارجية، فمن العوامل الخارجية إدراك الجزائريين الذين كانوا يترددون على أوروبا و فرنسا خصوصا الفروق الظالمة بين سياسة ( فرنسا ) في وطنها، وسياستها في ( الجزائر) كما لعبت الصلة بالشرق العربي دورا بارزا بفضل الصحف والنشريات التي كانت تسرب في التراب الوطني فتدعو إلى اليقظة والنهوض عربيا، ومن بينها صحيفة( المؤيد ) المصرية التي يقول عنها ( سعد الدين بن أبي شنب ) إنها ابتداء من سنة 1307ه (1889م) أخذت تدعو إلى اليقظة و إصلاح المفاسد المتفشية بين العرب، و حب الحرية و الثورة على الاستبداد الاستعماري ، فكانت الصحف و المجلات تأتيهم ( الجزائريين ) مباشرة من مصر، أو تصل إليهم عن طريق غير مباشر أي طريق تونس حيث كانت المراقبة الفرنسية أخف وطأة وأقل تشديدا من طريق المغرب الذي كان لا يزال يتمتع باستقلاله أو ما بين حقائب الحجاج عند رجوعهم من البلاد المقدسة بعد أداء مناسك الحج أو العمرة، و كان كل عدد من تلك النشرات يزيدهم شجاعة وإيمانا بمستقبلهم العربي الإسلامي، فمن أثار تلك الروابط الروحية و العقلية بين الشرق والجزائر في ذلك الزمان أن أحدثت منذ القرن الرابع عشر و حركة علمية أدبية تنتمي إلى النهضة الشرقية من ناحية وتقتدي بها، و من ناحية أخرى تقلد أساليب الغرب العملية في البحث .

أما الحركة الأدبية ، فقد عرفت بعد هذه المرحلة و بالذات ابتداء من الأمير عبد القادر تطورا ملحوظا ، حيث تحرر النثر الجزائري من الجمود و التبخر ...

على هذه الصورة نكون قد قمنا برحلة طويلة مع النثر الجزائري الحديث و غامرنا في سياحات ممتعة اطلعنا من خلالها على تراث متعدد الأشكال، و الأساليب و المضامين . ويمكننا أن نسجل بعض الملاحظات أو النتائج نوجزها فيما يلي :

أولا: النثر الجزائري الحديث قد تحرر منذ مدة مبكرة من الجمود و التحجر الذي سيطر على الأدب العربي في القرون الماضية ، و الفضل في هذا يرجع إلى أدباء القرن الماضي ابتداء من الأمير عبد القادر .

ثانيا: - إن اللغة العربية رغم ضعفها و رغم الظروف التي عاشتها تحت الاستعمار استطاعت أن تعبر عن مشاعر الكتاب و تنقل إلينا ما كان يجري في الفترة التي عرضنا لها بالدرس و التحليل .

ثالثا:- تطور الأسلوب الأدبي تطورا واضحا في القرن الحالي بسبب احتكاك الكتاب بالعالم الخارجي .
رابعا:- ظهور أشكال أدبية نثرية جديدة لم تكن موجودة في القرن الماضي فيما يتعلق بالنثر.

كل ذلك مما ساعد على صفاء اللغة ومرونتها وصقلها بحيث عكست تجارب خصبة ومتنوعة لدى الكتاب و المنشئين ، وهذه ميزة في النثر قد لا نعثر عليها في الشعر الجزائري الحديث إلا في السنوات الأخيرة لأن الشعراء ارتبطوا بالتراث ارتباطا كليا و إذا كانوا قد جددوا في الموضوعات و المضامين فإن معظمهم بقي يجول في دائرة القدماء . بينما الكتاب تحرروا من سيطرة الماضي ومن سحره إلى حد كبير ربما لأن لغته تختلف عن لغة النثر، و ربما لأن قيود الشعر أثقل من قيود النثر.

ولكن المهم أن كتاب النثر أسهموا بقوة في تطور اللغة الأدبية و في أسلوب الأدب. بحيث يمكن أن نتتبع هذا التطور من خلال اللغة ومن خلال الأشكال الأدبية، بحيث نلحظ ضعفا في هذه اللغة و أسلوب الكتابة فيها أثناء القرن التاسع عشر خاصة في الرحلات وفي المقامة ولأن اللغة في ذلك الوقت انحسر مدها تحت ضعف اللغة و الثقافة الأجنبية وتحت وطأة الاستعمار الفرنسي بينما في عصر النهضة و الانبعاث و في عصر الإحياء أخذت تسترد مكانها وقدرتها على البيان والتصوير. ونلحظ هذا التطور من عقد إلى آخر من خلال المقال والقصة و المسرحية و غيرها، لأن الأدباء تنوعت ثقافتهم و تجاربهم حتى جاءت الحرب الثانية ثم الثورة ثم جاء الاستقلال فنجد أن هذه اللغة تتطور باستمرار وتسعى إلى أن تصبح أداة مرنة من جهة، و تعبيرا عن شخصية الشعب الجزائري العربي من جهة أخرى فاكتملت صورتها في أيامنا هذه و هي في طريقها إلى أن تخطو إلى الأمام وتتحرر من رواسب الماضي وتحتل مكانتها التي حرمت منها طويلا .

خامسا: - أن النثر الجزائري صور واقع المجتمع و القضايا التي عاشها الكتاب أكثر من قرن و نصف ، و نقل إلينا ما يلقى الضوء على المراحل التي مر بها المجتمع و الصراعات المختلفة التي ظهرت في البيئة الجزائرية و سجل نظرة الأدباء و الكتاب لهذه القضايا بحيث يمكن أن تعتبر نصوصه شواهد على هذا الماضي الطويل الذي عاشه الشعب الجزائري تحت نير الاستعمار، وأيضا عكس فرحة الشعب وأحلامه أيام الثورة وبعد الاستقلال .

وحين يصبح الأدب شاهدا على العصر الذي وجد فيه فإنه يكون تعبيرا عن الواقع من جهة وتعبيرا عن الصدق من جهة أخرى. و لقد كان النثر الجزائري صادقا في قوته وضعفه في جموده و تطوره ، كان كذلك من خلال الأشكال الأدبية النثرية القديمة والحديثة والنماذج التي عرضنا لها، تؤكد أن الكاتب كان ملتزما باستمرار ومنحازا للشعب وللقومية وللعقيدة وكذلك كان أدبا من اجل الإنسان والجمال والخير ومن اجل الحياة.