Sejarah kebudayaan islam
Arab Sebelum Islam
Catatan ini ditujukan untuk memenuhi tugas ujian
Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan Islam
Dosen Pengampu : Prof. Dr. M. Abdul Karim
BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011
BAB I
PEMBAHASAN
A. ETIMOLOGI
Menurut bahasa, ‘Arab artinya padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya, Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada Jazirah Arab, sebagaiman sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu atau nama dari leluhur terdahulu, lalu mereka menjadikan namanya sebagai tempat tinggal[1].
B. ARAB SEBELUM ISLAM
Ketika Nabi Muhammad Saw. Lahir (570 M), Makkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal diantara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai,menghubungkan Yaman dan Syiria di utara. Dengan adanya Ka’bah di tengah kota, Akkah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah. Di dalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, Hubal. Makkah kelihatan makmur dan kuat. Agama dan masyarakat Arab saat itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat Jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi.
Biasanya, dalam membicarakan wilayah geografis yang didiami bangsa Arab sebelum islam, orang membatasi pembicaraan hanya pada Jazirah Arab, padahal bangsa Arab juga mendiami daerah-daerah di sekitar Jazirah. Jazirah Arab memang merupakan kediaman mayoritas bangsa Arab kala itu. Jazirah Arab terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu bagian tengah dan bagian pesisir. Di sana tidak ada sungai yang mengalir tetap,yang ada hanya lembah-lembah berair di musim hujan. Sebagian besar daerah Jazirah adalah padang pasir Sahara yang terletak di tengah dan memiliki keadaan dan sifat yang berbeda-beda, karena itu ia bisa dibagi menjadi tiga bagian:[2]
1. Sahara langit memanjang 140 mil dari Utara ke Selatandan 180 mil dari Timur ke Barat, disebut juga Sahara Nufud. Oase dan mata air sangat jarang, Tiupan angin sering kali menimbulkan kebut debuyang mengakibatkan daerah ini sukar ditempuh.
2. Sahara Selatan yang membentang menyambung Sahara langit ke arah Timur sampai selatan persia. Hampir seluruhnya merupakan dataran keras, tandus dan pasir bergelombang. Daerah ini juga disebut dengan ar-Rub’ al-Khali (bagian yang sepi).
3. Sahara Harrat, suatu daerah yang terdiri dari tanah liat yang berbatu hitam bagaikan terbakar. Gugusan batu-batu hitam itu menyebar di keluasan Sahara ini. Seluruhnya mencapai 29 buah.
Penduduk Sahara sangat sedikit terdiri dari suku-suku Badui yang mempunyai gaya hidup pedesaan dan nomadik, berpindah dari satu daerah ke daerah lain guna mencari air dan padang rumput untuk binatang gembalaan mereka, kambing dan unta.
Adapun daerah pesisir, bila dibandingkan dengan Sahara sangat kecil, bagaikan selembar pita yang mengelilingi jazirah. Penduduk sudah hidup menetap dengan mata pencaharian bertani dan berniaga. Karena itu, meeka sempat membina berbagai macam budaya, bahkan kerajaan.
Bila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk Jazrah Arab dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu Qahthaniyun dan ‘Adnaniyun[3]. Pada mulanya wilayah Utara diduduki oleh golongan ‘Adnaniyun, dan wilayah selatan oleh golongan Qahthaniyun. Akan tetapi, lama-kelamaan kedua golongan itu membaur akibat berpindah-pindah dari Utara ke Selatan atau sebaliknya.
Masyarakat, baik nomadik maupun yang menetap, hidup dalam kesukuan Badui. Keorganisasian dan identitas sosial berakar pada keanggotaan dalam suatu rentang komunitas yang luas. Kelompok beberapa keluarga membentuk kabilah. Beberapa kelompok kabilah membentuk suku dan dipimpin oleh seorang Syaikh. Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan, sehingga kesetiaan atau kesolidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku. Mereka suka berperang. Karena itu, peperangan antar suku sering kali terjadi. Sikap ini tampaknya sudah menjadi tabi’at yang mendarah daging dalam diri orang Arab. Dalam diri orang Arab yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah. Situasi ini terus berlangsung sampai agama Islam lahir.
Akibat peperangan yang terus menerus, kebudayaan mereka tidak berkemban. Karena itu bahan-bahan sejarah Arab pra Islam sangat langka didapatkan di dunia Arab dan dalam bahasa Arab.Ahmad Syalabi menyebutkan, sejarah nereka hanya dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya agama Islam.[4] Pernyataan itu diperoleh melalui syair-syair yang beredar di kalangan para perawi syair. Dengan begitulah sejarah dan sifat masyarakat Badui Arab dapat diketahui, antara lain, bersemangat tinggi dalam mencari nafkah, sabar menghadapi kekerasan alam, dan dikenal sebagai masyarakat yang cinta kebebasan.
Dengan kondidi alami seperti tidak pernah berubah itu, masyarakat Badui pada dasarnya tetap berada dalam fitrahnya. Kemurniannya terjaga, jauh lebih murni dari bangsa-bangsa lain. Dasar-dasar kehidupan mereka mungkin dapat disejajarkan dengan bangsa-bangsa yang masih berada dalam taraf permulaan perkembangan budaya. Bedanya dengan bangsa lain hampir seluruh penduduk Badui adalah penyair.[5]
Lain halnya dengan penduduk negeri yang telah berbudaya dan telah mendiami wilayah pesisir Jazirah Arab, sejarah mereka dapat lebih diketahui lebih jelas. Mereka sering mengalami perubahan sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi yang mengitarinya. Mereka mampu membuat alat-alat dari besi, bahkan mendirikan kerajaan-kerajaan. Sampai kehadiran Nabi Muhammad, kota-kota mereka masih merupakan kota-kota perniagaan dan memang terletak pada jalur perdagangan yang menghubungkan antara Syam dan Samudra India. Sebagaimana masyarakat Badui, penduduk negeri ini juga mahir merubah syair.
Melihat bahasa dan hubungan dagang bangsa Arab, Leboun berkesimpulan, tidak mungkin bangsa Arab tidak pernah memiliki peradaban tinggi, apalagi hubungan dagang itu berlangsung selama 2000 tahun. Ia yakin, bangsa Arab ikut memberi saham dalam beradaban dunia, sebelum mereka bangkit kembali pada masa Islam. Golongan Qahthaniyun misalnya, pernah mendirikan Kerajaan Saba’ dan Kerajaan Himyar di Yaman, bagian Selatan Jazirah Arab. Kerajaan Saba’ inilah yang membangun bendungan Ma’arib, sebuah bendungan raksasa yang menjadi sumber mata air untuk seluruh wilayah kerajaan. Pada masa kejayaannya, kemajuan Kerajaan Saba’ di bidang kebudayaan dan peradaban, dapat dibandingkan dengan kota-kota dunia lain saat itu. Bekas-bekas kerajaan ini masih terbenam dalam timbunan tanah.[6] Pada masa pemerintahan Saba’, bangsa Arab menjadi penghubung antara Eropa dan dunia Timur Jauh. Setelah kerajaan mengalami kemunduran, muncul Kerajaan Himyar menggantikannya. Kerajaan ini terkenal dengan kekuatan armada niaga yang menjelajah mengarungi India, Cina, Somalia, dan Sumatra ke pelabuhan-pelabuhan Yaman. Perniagaan ketika itu dapat dikatakan dimonopoli oleh Himyar.[7]
Terutama setelah bendungan Ma’arib runtuh, masa gemilang Himyar sedikit demi sedikit mulai memudar. Banyak banguna roboh dibawa air dan sebagian besar penduduk mengungsi ke bagian Utara jazirah. Akan tetapi daerah ini tetap menjadi incaran kerajaan besar romawi dan persia yang selalu bersaing untuk menguasainya.
Bagian lain dari daerah Arab yang sama sekali tidak pernah dijajah oleh bangsa lain, baik karena sulit dijangkau maupun tandus dan miskin, adalah Hijaz. Kota terpenting di daerah ini adalah Makkah, kota suci tempat Ka’bah berdiri. Ka’bah pada masa itu bukan saja disucikan dan dikunjungi oleh penganut-penganut agama asli Makkah, tetapi juga oleh orang-orang yahudi yang bermukim di daerah sekitarnya.
Semenjak itu suku Quraisy menjadi suku yan mendominasi masyarakat Arab. Ada sepuluh jabatan tinggi yang dibagikan kepada kabilah-kabilah asal suku Quraisy, yaitu, hijbah, penjaga kunci-kunci ka’bah; siqayah, pengawas mata air zam-zam untuk dipergunakan oleh peziarah; diyat, penguasa hakim sipil dan kriminal; sifarah, kuasa negara usaha atau duta; liwa’, jabatan ketentaraan; nadwah, jabatan ketua dewan; khaimmah, pengurus balai musyawarah; khazinah, jabatan administrasi keuangan; dan azlam, penjaga panah peramal untuk mengetahui pendapat dewa-dewa. Pada saat itu sudah menjadi kebiasaan bahwa anggota yang tertua mempunyai pengaruh paling besar dan memakai gelar rais.
C. PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAN PERADABAN ARAB
Setelah Kerajaan Himyar jatuh, jalur-jalur perdagangan didominasi oleh Kerajaan Romawi dan Persia . pusat perdagangan Arab serentak kemudian beralih ke daerah Hijaz. Makkah pun menjadi masyhur dan disegani. Begitu pula suku Quraisy.kondisi ini membawa dampak positif bagi mereka, perdagangan menjadi semakin maju. Akan tetapi, kemajuan Makkah tidak sebanding dengan kemajuan kerajaan-kerajaan Arab sebelumnya. Meskipun demikian, dengan Makkah menjadi pusat peradaban,bangsa Arab bagaikan memulai babakan baru dalam hal kebudayaan dan peradaban.
Jadi, apa yang berkembang menjelang kebangkitan islam itu merupakan pengaruh dari bangsa-bangsa di sekitarnya yang lebih awal maju dan daripada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk melalui beberapa jalur:
1. Melalui hubungan dagang dengan bangsa lain.
2. Melalui kerajaan-kerajaan protektorat,[8] Hirah dan Ghasam.
3. Masuknya misi Yahudi dan Kristen.[9]
Melalui jalur hubungan dagang, bangsa Arab berhubungan dengan bangsa-bangsa Syiria, Persia, Habsyi, Mesir, dan Romawi. Melalui kerajaan-kerajaan protektorat, banyak berdiri koloni-koloni tawanan perang Romawi dan Persia di
Ghassa dan Hirah. Penganut agama Yahudi juga banyak mendirikan koloni di Jazirah Arab, yang terpenting diantaranya adalah Yatsrib. Penduduk koloni ini terdiri dari orang-orang Yahudi dan orang-orang Arab yang menganut agama Yahudi.
Walaupun agama Yahudi dan Kristen sudah masuk ke Jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka, yaitu percaya pada banya dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung. Setiap berhala memiliki berhala sendiri. Berhala-berhala tersebut dipusatkan di Ka’bah, meskipun di tempat-tempat lain juga ada. Berhala-berhala yang terpenting adalah Hubal, yang dianggap sebagai dewa terbesar, terletak di Ka’bah; Lata, dewa tertua, terletak di Thaif; Uzza, bertempat di Hijaz, kedudukannya berada di bawah hubal dan Manat yang bertempat di Yatsrib. Berhala-berhala itu dijadikan tempat untuk menanyakan dan mengetahui nasib baik dan nasib buruk.demikianlah, keadaaan bangsa dan Jazirah Arab menjelang kebangkitan islam.
[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa Arab-Etomologi
[3] Keturunan Qahthan dan keturunan Ismail bin Ibrahim
[5] Gustav Leboun, Hadharat al-‘Arab, (Kairo: Mathba’ah ‘Isa Al-Babi Al-Halabi, t.t.) hlm. 72.
[6] Ibid., hlm. 95.
[7] A. Syalabi, op. cit., hlm. 37
[8] Di sebelah Utara jazirah yang merupakan kerajaan protektorat. Ini terjadi karena kafilah-kafilah Romawi dan Persia selalu mendapat gangguan dari suku-suku Arab yang memeras dan merampok. Sehingga berdirilah kerajaan-kerajaan ini guna melindungi rakyat yang tertindas.
[9] Ahmad Amin, op. cit., hlm. 12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar