Jumat, 19 November 2010

Seni Islam Bernama Marawis

 
Tepak tepok Marawis menggema di pelosok Jakarta. Inilah akulturasi budaya Arab-Betawi bernuansa dakwah.
“Jangan lihat kecilnye, tapi tepokkannye, beri tepok tangan untuk Al Hisam�, pembawa acara memandu tepuk tangan penonton Sabtu siang itu di pelataran mesjid Nurul Iman, Rawa Barat, Kuningan, Jakarta Selatan. Al Hisam adalah grup Marawis terdiri dari 12 anak kecil di bawah usia 12 tahun dari Tebet, Jakarta Selatan. Imut-imut, memakai seragam koko berwarna ungu, berkopiah dan bersyal, anak-anak kecil itu khusyuk menabuh kendang dan bershalawat. Sesekali mereka menunduk, menggoyang badan, dan menepuk lantai di ketukan tertentu sebagai variasi pendukung lagu.

Satu hari di bulan lalu, Yayasan Nurul Iman menggelar festival Marawis se DKI Jakarta untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW. Al Hisam adalah satu di antara 13 grup Marawis yang berlaga di festival itu. Dan mereka tampil memukau, terutama karena kebeliaan usia dan kekhusyukan bermarawis di antara peserta lain yang rata-rata remaja di atas usia 12 tahun.
Ketigabelas grup itu memperebutkan tropi dan dana pembinaan dari Yayasan Nurul Iman. Juara I mendapat dana pembinaan sebesar Rp 1 Juta, juara II Rp750.000 dan juara III Rp500.000. Tidak banyak memang, Asep Maulana, Ketua Panitia Festival mengakui festivalnya memang bukan kelas besar, tapi menengah. Untuk menyelenggarakannya saja hanya dibutuhkan dana sekitar Rp35 Juta. Dan itu didapat secara swadaya, seperti sumbangan tokoh masyarakat dan ada juga yang hasil sponsorship dari beberapa perusahaan yang berkantor di sekitar Rawa Barat.
Ini adalah kedua kalinya yayasan ini menggelar festival Marawis. Alasannya, selain untuk syiar Islam juga menjalin silaturahmi antarmesjid dan grup Marawis di DKI Jakarta. Yayasan ini sendiri memiliki grup Marawis bernama El Batavia sejak tahun 2005 yang sudah cukup dikenal di Jakarta.
Karena sudah pengalaman dan dikenal, tak sulit untuk mengundang pelbagai grup Marawis di DKI Jakarta untuk ikut festival. �Marawis sudah menjadi komunitas dan industri, kami sudah saling kenal, kadang pengajarnya sama dan sering ikut festival bareng�, terang Asep kepada Sharing.
Marawis yang Membawa Nilai-nilai
Namanya perlombaan, yayasan mengundang tiga juri untuk menilai para peserta. Penilaian sebuah festival Marawis, menurut Asep biasanya terdiri dari tiga aspek, yaitu aransemen, vokal, dan adab.
Yang inti sebenarnya aransemen dan vokal. Maklum, Marawis adalah seni musik berbasis pukulan perkusi dan vokal. Aransemen menyangkut irama perkusi yang dimainkan sebuah grup. Faktor penentunya antara lain, kestabilan volume pukulan, tempo, variasi, dan teknik pukulan. Sedangkan vokal menyangkut fasoha (pelafalan huruf per huruf), kekompakan koor, penguasaan lagu, penghayatan, dan teknik menyanyi.
Kalau adab, biasanya ini faktor pendukung saja. Sang juri adab akan menilai penampilan grup sejak naik dan turun panggung. Grup Marawis biasanya sudah mulai menyanyi sejak di bawah panggung. Baru ketika naik, nyanyian dihentikan lalu mengucap salam. Ketika di atas panggung, jangan ceroboh, satu gerakan atau kostum yang dianggap tidak sepantasnya bisa mengurangi nilai. Misalnya, �Kagak etis dong kalo di atas panggung menggaruk-garuk tangan�, ujar Asep.
Di mata Ketua I Himpunan Marawis Indonesia (Himmi)) Dja’far AZ, soal adab ini sebenarnya penting juga. Karena dari situlah pribadi pemarawis terbentuk. Dengan menerapkan adab yang benar dan baik sesuai ajaran Islam, biasanya berimbas kepada sikap pemarawis dalam kesehariannya. Karena, �Yang dilagukan itu ’kan shalawat kepada Nabi, kira-kira bagaimana mestinya orang yang sedang membaca shalawat sikap dan penampilannya?�, kata Dja’far kepada Sharing.
Misalnya, pemarawis jadi biasa dan nyaman menutup aurat karena saat latihan pemarawis dilarang memakai celana pendek dan badan harus bersih. Latihan Marawis biasanya dilakukan di dalam mesjid, di sela-sela pengajian dan shalat berjamaah. Efek lanjutnya adalah menghindarkan remaja dari perilaku menyimpang. �Daripada bergaul enggak jelas, narkoba, tawuran, anak muda mending Marawisan�, imbuh Dja’far.
Di Tiap Pelosok Jakarta
Membentang di lima Kotamadya, Dja’far mengklaim Marawis bisa ditemukan hampir di tiap mesjid, majlis ta’lim, madrasah, dan remaja mesjid. Hampir di semua mesjid yang memiliki grup Marawis juga mengadakan festival atau pertunjukkan Marawis untuk memperingati hari-hari besar Islam.
Wan sendiri, sapaan akrab Dja’far yang keturunan Arab ini tak bisa menghitung berapa banyak pertunjukkan dan festival Marawis dalam setahun di Jakarta. Padahal, ia termasuk rajin menyambangi pertunjukan Marawis sebagai tugasnya di Himmi.
Karena sudah membumi di masyarakat Betawi itulah, Gubernur DKI terdahulu, Sutiyoso menerbitkan SK No.2213/2002 untuk Himmi. Kini legalitas Himmi sudah diperbarui dengan SK dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI pada 2005.
Himpunan dibentuk atas inisiatif penggiat Marawis saat itu. Perannya sebagai mediator antara pemerintah dan grup-grup Marawis. Dari Himmi juga lahir banyak pelatih marawis yang siap menyebarluaskan kesenian Islami ini. Tiap tahun, lima wilayah DKI menyelenggarakan pelatihan marawis di Balai Latihan Kesenian (BLK). Himmi sudah mengadakan tiga kali pelatihan dan tiap wilayah melatih 30-an peserta. Jadi, kira-kira Wan, Himmi sudah meluluskan 450-an ’agen’ Marawis.
Para pelatih Marawis itu lalu ada yang disalurkan bekerja melatih grup ada yang mencari sendiri. Hanya harus dimaklumi bahwa melatih Marawis belum bisa dijadikan gantungan hidup yang layak di Jakarta. Untuk sekali melatih, honornya paling-paling berkisar antara Rp75-100 ribu per latihan. Dalam seminggu, grup pemula bisa dua kali latihan sedangkan yang pengalaman biasanya hanya sekali. Kalau mau lomba baru bisa tiga sampai empat kali latihan. �Ada juga grup yang minta gratis dan sering dikabulkan.Ya, namanya melatih Marawis tujuan utamanya adalah syiar Islam, bukan profit�, terang Wan.
Per 2007, Wan mengklaim ada 118 grup Marawis terdaftar di Himmi. Himmi juga membantu menyediakan alat untuk grup Marawis yang tidak mampu dengan mengajukan subsidi dana pembelian ke pemerintah.
Soal alat ini, ia memberi ancer-ancer harga. Kalau satu set lengkap terdiri dari delapan marawis (kendang seukuran telapak tangan), tiga sampai empat dumbok (kendang ukuran menengah), dan satu hajir (kendang ukuran besar) harganya berkisar Rp2,5-3 Juta. Kalau yang dumbok-nya hanya satu Rp2 Juta. Produsennya, hingga kini yang dikenal umum baru satu, Pak Ipin di bilangan Condet, Jakarta Selatan. IA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar