Sabtu, 20 November 2010

ANUGERAH ALLAH

Aku melihat-Mu pada saat penciptaanku,
yang penuh dengan anugerah.
Engkaulah sumber satu-satunya,
pada saat penciptaanku.
Hidarkan aku dari anugerah yang buruk.
Karena sepotong kehidupan telah cukup bagiku,
hingga saat Engkau mematikanku.

Pecinta Sejati


Kekasih Tuhan itu sakit di dunia ini,
Penderitaannya tak kunjung seda,
Kesedihannya satu-satunya pelipur hatinya,
Barangsiapa benar-benar mencintai Pencipta Agung …

Berkelana ke seluruh dunia bersama-Nya,
Di dalam pikiran-Nya
Dan di karuniai penglihatan akan Dia.

Takallam billughah Arabiyah walau khata

Pengertian Cinta Menurut Alquran

Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh SWT, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta Mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta Mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta Syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta Ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta Shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta Syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta Kulfah, yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)
Resep Masakan - Chicken Cordon Bleu

Bahan:

2 dada ayam, tanpa kulit
2 lembar irisan roast beef (daging sapi panggang)
2 sdt mustard
garam & merica secukupnya

Kulit:
tepung terigu (plain flour)
tepung roti (bread crumbs)
1 butir telur kocok

Cara:
1. Belah dada ayam secara horisontal (melebar), tapi jangan sampai terpotong. Buka di tengah, lumuri dengan mustard, garam & merica.
2. Letakkan roast beef di tengah2 dada ayam, tutup kembali. Bila perlu, tusuk dengan tusuk gigi agar tidak terbuka. Taruh di kulkas selama 30 menit.
3. Labur dada ayam dengan tepung terigu, lalu celupkan dalam telur kocok. Setelah itu labur dengan tepung roti sampai seluruh permukaan dada ayam terlapisi.
4. Goreng dengan api kecil dulu. Setelah 3/4 matang, besarkan api. Jangan lupa buang tusuk gigi setelah menggoreng, sebelum menghidangkan.
5. Sajikan dengan saus tomat atau sambal ABC.
Dikirim oleh : Levina
Untuk resep masakan lainnya silahkan dilihat di ResepMasakanku.com

Resep Masakan - Es Krim Kelapa Muda

Bahan :

  • 1/2 ltr sus segar
  • 100 ml air kelapa muda
  • 1 sdk tepung maizena, larutkan sedikit dalam air
  • 3 telur ayam, ambil kuningnya saja lalu dikocok
  • 200 gr daging kelapa muda
  • 100 mk krim kental
Cara membuat :
  • Campurkan susu dan air kelapa muda kemudian aduk rata
  • Masak diatas api kecil sambil diaduk terus hingga panas
  • Masukkan cairan maizena kemudian aduk terus hingga mendidih
  • Ambi sedikit adonan kemudian aduk dengan kuning telur.
  • Masukkan kembali kedalam adonan. Masak hingga mendidih kemudian angkat dan terus di aduk hingga uapnya hilang.
  • Tambahkan daging kelapa muda dan krim kemudian aduk rata.
  • Setelah agak dingin, masukkan ke dalam freezer hingga setengah beku.
  • Aduk kembali hingga rata kemudian simpan dalam freezer hingga beku.
  • Sajikan dalam gelas gelas kecil
Untuk Resep Masakan lainnya dapat Anda lihat di ResepMasakanku.com

Jumat, 19 November 2010

Seni Islam

“… Penyebutan Allah pada diri-Nya sebagai badi’ussamawat wal ardh, merupakan penegasan bahwa islam pun menghendaki dalam kehidupan ini suatu keindahan yang tidak lepas dari kesenian. Sebab arti badi’ itu adalah pencipta pertama dan berkonotasi indah.”
Dr. KH MA Sahal Mahfudz
Allah meniupkan perangkat sempurna dibanding makhluk lainnya– pada diri manusia. Itulah mengapa Pencipta alam raya ini memberikan gelar ‘Ahsanut Taqwim’ pada bani Adam. Dan tahukah bahwa perangkat itu adalah daya cipta manusia, baik dalam ranah logika maupun estetika (keindahan). Yang disebut terakhir dalam bahasa sehari-hari dapat dikatakan sebagai seni. Dan seni dapat juga diartikan sebagai keahlian membuat karya yang bermutu tinggi.
Islam sebagai agama yang sesuai dengan fitrah tentu tidak pernah memasung kreativitas selama masih sejalan dengan kefitrahan itu sendiri. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Allah memberikan kesan kepada hambaNya, bahwa Dia adalah Sang Kreator Ulung (badi’). Untuk membuktikannya, mari kita simak bagaimana Allah menciptakan alam raya dengan keindahannya dalam firmanya yang artinya:
“Tidakkah mereka melihat ke langit yang ada di atas mereka, bagaimana kami meninggikan dan menghiasinya, dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun.” [QS. Qaf: 6]
Selanjutnya, Allah juga mengajak kita mengamati keindahan tumbuh-tumbuhan ketika berbuah. Dalam firmanNya yang artinya:
“Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan perhatikan pulalah kamatangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Al-An'am: 99]
Begitu pula Allah telah menciptakan laut, tidak hanya dapat diambil kesegaran dagingnya, namun juga perhiasan –yang dalam Kitab Jalalain ditafsirkan intan mutiara– yang indah.
“Dan Dia-lah (Allah) yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya (laut itu) daging yang segar, dan kamu dapat mengeluarkan darinya (lautan itu) perhiasan yang kamu pakai…” [QS. An-Nahl: 14]
Untuk itulah mengapa kemudian Imam Ghazali –dalam Ihya’– menyebutkan bahwa orang yang tidak dapat menikmati keindahan alam semesta, niscaya ia menderita penyakit yang kronis, “Siapa yang tidak berkesan hatinya di musim bunga dengan kembang-kembangnya, atau oleh alat musik dan getaran nadanya, maka fitrahnya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati.”
Seni Islami
Meskipun Islam bersikap apresiatif terhadap keindahan (baca: kesenian), namun dalam perkembangannya, seni Islam akhir-akhir ini mengalami kemunduran. Hal ini jauh berbeda dengan masa-masa keemasan Islam tempo dulu. Di antara sebab terjadinya karena memang minimnya umat Islam yang mau mengembangkan seni sesuai koridor kefitrahan atau karena sikap kehati-hatian umat Islam karena khawatir masuk dalam keharaman. Sikap ini (meninggalkan seni) mempunyai alasan yang sama dalam transaksi ekonomi sebagaimana yang disinyalir oleh Umar bin Khattab. Beliau mengatakan, “Umat Islam meninggalkan dua pertiga (2/3) dari transaksi ekonomi karena khawatir terjerumus ke dalam (perkara) haram.” Dalam riwayat lain disebutkan “Meninggalkan sembilan persepuluh (9/10) dari transaksi ekonomi.”
Adapun pelabelan seni islami, sebenarnya hanya istilah saja. Sebab Islam datang tidak secara tegas memberikan aturan-aturan tentang kesenian. Maksud dari seni islami adalah kreativitas yang indah yang sejalan dengan nilai-nilai syariat dan fitrah manusia. Hal ini berarti mengecualikan kreasi indah yang tidak sesuai dengan nilai syariat, seperti lukisan yang mengundang syahwat, foto-foto yang membuka aurat (bugil), dan lain sebagainya. Sebab meskipun ada sebagian yang menganggap itu sebagai keindahan –jika anggapan itu benar– tapi telah melewati batas syariat dan fitrah manusia.
Begitu pula lirik-lirik lagu atau syair yang membingungkan pendengar dan mengandung arti yang tidak sesuai dengan kebenaran. Contohnya dapat kita lihat dalam sebuah kisah yang diriwayatkan Imam Ahmad yang menyebutkan dua orang wanita sedang mengenang para pahlawan badar sambil menabuh gendang. Di antara syairnya:
“Dan kami mempunyai Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok.”
Mendengar kalimat ini, Nabi SAW menegur mereka:
“Adapun yang demikian, maka jangan kalian ucapkan. Tidak ada yang mengetahui (secara pasti) apa yang terjadi esok kecuali Allah.”
Media Dakwah
Seni sebagai fitrah manusia tentu mempunyai titik singgung terhadap seluruh individu yang ‘masih baik’ kefitrahannya. Penggunaan seni dalam penguatan dakwah akan menjadi semakin mengena karena seni menggunakan perangkat dasar –fitrah– manusia. Dakwah secara etimologi berarti memanggil atau seruan. Adapun secara terminologi adalah mengajak atau menyeru manusia untuk melakukan kebajikan (amar ma’ruf) dan melarang kejelekan (nahi munkar).
Pemahaman dakwah ini dapat kita tilik dari surat An-Nahl ayat 125, yang terjemahanya :
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebat-debatlah dengan mereka dengan cara yang baik…”
Ayat ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ayat 110 surat Ali Imran yang menerangkan bahwa Allah telah memberikan predikat “khoira ummah” kepada umat Nabi Muhammad. Salah satu perangkat khouira ummah itu adalah perintah ber-amar ma’ruf dan nahi munkar bagi setiap individu umat Islam. Adapun arti ayat yang dimaksud adalah:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari mungkar, dan beriman kepada Allah…”
Sebagai media dakwah, seni budaya mempunyai arah pencapaian kesadaran kualitas keberagamaan Islam yang pada gilirannya membentuk perilaku islami dengan tanpa menimbulkan konflik sosial atau pun gejolak budaya. Selain itu, kesenian dalam kehidupan yang integral juga bisa diarahkan dalam pengembangan seni budaya yang mampu menjadi ‘tembok kokoh’ dari –campur tangan– budaya non islami.
Contoh yang tepat adalah dakwahnya para Walisanga yang telah berhasil ‘mengislamkan’ nusantara dengan tanpa ’setetes darah’ pun yang tertumpah. Semoga kita sebagai generasi Islam Indonesia mampu memangku amanat untuk tetap menghidupkan ruh Islam dengan atribut seni dan budayanya. Dengan demikian diharapkan Islam di tanah air mempunyai denyut nadi yang utuh sesuai dengan fitrahnya. [Hasem Ibnu Multazam].

Seni Islam Bernama Marawis

 
Tepak tepok Marawis menggema di pelosok Jakarta. Inilah akulturasi budaya Arab-Betawi bernuansa dakwah.
“Jangan lihat kecilnye, tapi tepokkannye, beri tepok tangan untuk Al Hisam�, pembawa acara memandu tepuk tangan penonton Sabtu siang itu di pelataran mesjid Nurul Iman, Rawa Barat, Kuningan, Jakarta Selatan. Al Hisam adalah grup Marawis terdiri dari 12 anak kecil di bawah usia 12 tahun dari Tebet, Jakarta Selatan. Imut-imut, memakai seragam koko berwarna ungu, berkopiah dan bersyal, anak-anak kecil itu khusyuk menabuh kendang dan bershalawat. Sesekali mereka menunduk, menggoyang badan, dan menepuk lantai di ketukan tertentu sebagai variasi pendukung lagu.

Satu hari di bulan lalu, Yayasan Nurul Iman menggelar festival Marawis se DKI Jakarta untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW. Al Hisam adalah satu di antara 13 grup Marawis yang berlaga di festival itu. Dan mereka tampil memukau, terutama karena kebeliaan usia dan kekhusyukan bermarawis di antara peserta lain yang rata-rata remaja di atas usia 12 tahun.
Ketigabelas grup itu memperebutkan tropi dan dana pembinaan dari Yayasan Nurul Iman. Juara I mendapat dana pembinaan sebesar Rp 1 Juta, juara II Rp750.000 dan juara III Rp500.000. Tidak banyak memang, Asep Maulana, Ketua Panitia Festival mengakui festivalnya memang bukan kelas besar, tapi menengah. Untuk menyelenggarakannya saja hanya dibutuhkan dana sekitar Rp35 Juta. Dan itu didapat secara swadaya, seperti sumbangan tokoh masyarakat dan ada juga yang hasil sponsorship dari beberapa perusahaan yang berkantor di sekitar Rawa Barat.
Ini adalah kedua kalinya yayasan ini menggelar festival Marawis. Alasannya, selain untuk syiar Islam juga menjalin silaturahmi antarmesjid dan grup Marawis di DKI Jakarta. Yayasan ini sendiri memiliki grup Marawis bernama El Batavia sejak tahun 2005 yang sudah cukup dikenal di Jakarta.
Karena sudah pengalaman dan dikenal, tak sulit untuk mengundang pelbagai grup Marawis di DKI Jakarta untuk ikut festival. �Marawis sudah menjadi komunitas dan industri, kami sudah saling kenal, kadang pengajarnya sama dan sering ikut festival bareng�, terang Asep kepada Sharing.
Marawis yang Membawa Nilai-nilai
Namanya perlombaan, yayasan mengundang tiga juri untuk menilai para peserta. Penilaian sebuah festival Marawis, menurut Asep biasanya terdiri dari tiga aspek, yaitu aransemen, vokal, dan adab.
Yang inti sebenarnya aransemen dan vokal. Maklum, Marawis adalah seni musik berbasis pukulan perkusi dan vokal. Aransemen menyangkut irama perkusi yang dimainkan sebuah grup. Faktor penentunya antara lain, kestabilan volume pukulan, tempo, variasi, dan teknik pukulan. Sedangkan vokal menyangkut fasoha (pelafalan huruf per huruf), kekompakan koor, penguasaan lagu, penghayatan, dan teknik menyanyi.
Kalau adab, biasanya ini faktor pendukung saja. Sang juri adab akan menilai penampilan grup sejak naik dan turun panggung. Grup Marawis biasanya sudah mulai menyanyi sejak di bawah panggung. Baru ketika naik, nyanyian dihentikan lalu mengucap salam. Ketika di atas panggung, jangan ceroboh, satu gerakan atau kostum yang dianggap tidak sepantasnya bisa mengurangi nilai. Misalnya, �Kagak etis dong kalo di atas panggung menggaruk-garuk tangan�, ujar Asep.
Di mata Ketua I Himpunan Marawis Indonesia (Himmi)) Dja’far AZ, soal adab ini sebenarnya penting juga. Karena dari situlah pribadi pemarawis terbentuk. Dengan menerapkan adab yang benar dan baik sesuai ajaran Islam, biasanya berimbas kepada sikap pemarawis dalam kesehariannya. Karena, �Yang dilagukan itu ’kan shalawat kepada Nabi, kira-kira bagaimana mestinya orang yang sedang membaca shalawat sikap dan penampilannya?�, kata Dja’far kepada Sharing.
Misalnya, pemarawis jadi biasa dan nyaman menutup aurat karena saat latihan pemarawis dilarang memakai celana pendek dan badan harus bersih. Latihan Marawis biasanya dilakukan di dalam mesjid, di sela-sela pengajian dan shalat berjamaah. Efek lanjutnya adalah menghindarkan remaja dari perilaku menyimpang. �Daripada bergaul enggak jelas, narkoba, tawuran, anak muda mending Marawisan�, imbuh Dja’far.
Di Tiap Pelosok Jakarta
Membentang di lima Kotamadya, Dja’far mengklaim Marawis bisa ditemukan hampir di tiap mesjid, majlis ta’lim, madrasah, dan remaja mesjid. Hampir di semua mesjid yang memiliki grup Marawis juga mengadakan festival atau pertunjukkan Marawis untuk memperingati hari-hari besar Islam.
Wan sendiri, sapaan akrab Dja’far yang keturunan Arab ini tak bisa menghitung berapa banyak pertunjukkan dan festival Marawis dalam setahun di Jakarta. Padahal, ia termasuk rajin menyambangi pertunjukan Marawis sebagai tugasnya di Himmi.
Karena sudah membumi di masyarakat Betawi itulah, Gubernur DKI terdahulu, Sutiyoso menerbitkan SK No.2213/2002 untuk Himmi. Kini legalitas Himmi sudah diperbarui dengan SK dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI pada 2005.
Himpunan dibentuk atas inisiatif penggiat Marawis saat itu. Perannya sebagai mediator antara pemerintah dan grup-grup Marawis. Dari Himmi juga lahir banyak pelatih marawis yang siap menyebarluaskan kesenian Islami ini. Tiap tahun, lima wilayah DKI menyelenggarakan pelatihan marawis di Balai Latihan Kesenian (BLK). Himmi sudah mengadakan tiga kali pelatihan dan tiap wilayah melatih 30-an peserta. Jadi, kira-kira Wan, Himmi sudah meluluskan 450-an ’agen’ Marawis.
Para pelatih Marawis itu lalu ada yang disalurkan bekerja melatih grup ada yang mencari sendiri. Hanya harus dimaklumi bahwa melatih Marawis belum bisa dijadikan gantungan hidup yang layak di Jakarta. Untuk sekali melatih, honornya paling-paling berkisar antara Rp75-100 ribu per latihan. Dalam seminggu, grup pemula bisa dua kali latihan sedangkan yang pengalaman biasanya hanya sekali. Kalau mau lomba baru bisa tiga sampai empat kali latihan. �Ada juga grup yang minta gratis dan sering dikabulkan.Ya, namanya melatih Marawis tujuan utamanya adalah syiar Islam, bukan profit�, terang Wan.
Per 2007, Wan mengklaim ada 118 grup Marawis terdaftar di Himmi. Himmi juga membantu menyediakan alat untuk grup Marawis yang tidak mampu dengan mengajukan subsidi dana pembelian ke pemerintah.
Soal alat ini, ia memberi ancer-ancer harga. Kalau satu set lengkap terdiri dari delapan marawis (kendang seukuran telapak tangan), tiga sampai empat dumbok (kendang ukuran menengah), dan satu hajir (kendang ukuran besar) harganya berkisar Rp2,5-3 Juta. Kalau yang dumbok-nya hanya satu Rp2 Juta. Produsennya, hingga kini yang dikenal umum baru satu, Pak Ipin di bilangan Condet, Jakarta Selatan. IA
http://langitan.net/?p=743

Kucing menyanyi