Terima Kasih telah berkunjung. Ini adalah blog saya, silakan jelajahi informasi apapun tapi yang sopan ya.. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan.
Jumat, 14 Januari 2011
Makalah Dirasah Al-Hadits
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa berkembang terus sesuai dengan perkembangan pemikiran pemakai bahasa. Telah diketahui bahwa pemakaian bahasa diwujudkan didalam bentuk kata-kata dan kalimat. Manusialah yang menggunakan kata dan kalimat itu dan manusia pula yang menambah kosa kata sesuai dengan kebutuhannya.
Telah dikemukakan bahwa bahasa berkembang sesuai dengan perkembangan pemikiran pemakai bahasa. Karena manusia menggunakan kata-kata dan kalimat berubah terus, maka dengan sendiri maknanyapun berubah. Perubahan terjadi karena manusia sebagai pemakai bahasa menginginkannya. Kadang-kadang karena belum menemukan kata baru untuk mendukung pemikirannya, maka pembicara mengubah bentuk kata yang telah ada, atau boleh jadi ia mengubah makna yang telah ada.[1]
Kata ma’na dalam ilmu semantik, sering di sebut ‘tanda’. Ali Al-Khuli mendefinisikan, makna adalah sesuatu yang dipahami seseorang, baik berasal dari kata, ungkapan, maupun kalimat.[2] Dalam kesempatan ini Penulis ingin memaparkan sedikit tentang Sinonim, Antonim dan Hominim, serta faktor penyebab perubahan makna.
B. Rumusan Masalah
- Apakah yang dimaksud dengan Sinonim, Antonim dan Homonim
- Apakah Faktor-faktor dari Perubahan Makna
BAB II
PEMBAHASAN
Suatu kata mempunyai hubungan satu sama lain dalam berbagai bentuk. Ini merupakan akibat dari kandungan komponen makna yang kompleks. Ada beberapa hubungan semantis (antarmakna) yang memperlihatkan adanya persamaan, pertentangan, tumpang tindih, dan sebagainnya. Hubungan inilah yang dikenal dalam ilmu bahasa, di antaranya, sebagai sinonim, antonim, hiponim, homonim dan polisemi. Namun dalam kesempatan ini penulis hanya ingin membahas Sinonim, Antonimi dan Homonimi.
A. Sinonim (Al-Taraduf)
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang maknanya kurang lebih sama. Karena tidak akan ada dua buah kata berlainan yang maknanya persis sama. Yang sama sebenarnya hanyalah informasinya saja.[3] Istilah Sinonim berasal dari bahasa Yunani Konu; anoma = nama dan syn = dengan. Makna Harfiahnya adalah nama lain untuk benda ytang sama.[4]
Beberapa pakar linguistik terkemuka memberikan definisi tentang sinonim. Menurut Matthews (1997:367), sinonim adalah “the relation between two lexical units with a shared meaning.” Verhaar (1999:394) melambangkan suatu kata dalam kasus sinonim dengan X dan kata lainnya dengan Y. Menurutnya, bila X dan Y bermakna hampir sama, maka kesamaan makna antara X dan Y itulah yang disebut dengan sinonim. Definisi yang kurang lebih sama dikemukakan oleh Fromkin dan Rodman (1998:165) bahwa sinonim adalah beberapa kata yang mempunyai kemiripan makna tapi bunyi pelafalannya (sound) berbeda. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sinonim adalah dua kata yang mempunyai komponen makna yang sama meski bunyi pelafalan dan bentuknya berbeda.[5]
Berikut akan disajikan beberapa contoh sinonim dalam bahasa Arab:
- Kemiripan makna yang disebabkan oleh perbedaan dialek
- Khalaqa (menciptaptakan) bersinonim dengan shana‘a (membuat)
- Dukkân (kedai) yang bersinonim dengan hânût (warung)
- Badan (badan) yang bersinonim dengan jasad (jasad)
- Kemiripan makna yang muncul dengan bahasa yang berbeda
- Zaujah (istri) yang bersinonim dengan tsawiyyah (bini)
- Jimâ‘ (bersetubuh) yang bersinonim dengan mulâmasah (berhubungan badan)
- Mâta (mati) yang bersinonim dengan tuwuffiya (wafat)
- Kemiripan makna berasal dari jangka dan masa yang berbeda
- Maqhâ (tempat minum kopi) yang bersinonim dengan qahfii (kafe)
- Bilâth (keraton) yang bersinonim dengan qashr (istana)
- Kâtib (pencatat) yang bersinonim dengan sikirtîr (sekretaris)
B. Antonimi (Al-Tadhad)
Istilah Antonimi berasal dari bahasa Yunani Kuno; anoma = nama, dan anti = melawan.[6] Antonim adalah dua buah kata atau lebih yang maknanya ‘dianggap’ berlawanan.[7] Antonim lebih cenderung pada perhubungan makna yang bertalian dengan perlawanan makna. Setidaknya itulah yang bisa disimpulkan dari definisi yang dikemukakan oleh Matthews.
Berikut beberarapa contoh perlawanan makna dalam bahasa Arab sesuai dengan pembagian yang dikemukan oleh Molieono, Fromkin dan Rodman.
1. Perlawanan makna binary
- Maut (kematian) yang berlawanan makna dengan hayât (kehidupan)
- Rajul (laki-laki) yang berlawanan makna dengan mar‘ah (wanita)
- Nakaha (menikah) yang berlawanan makna dengan ‘azaba (lajang)
- Zhâlam (gelap) yang berlawanan makna dengan nûr (cahaya)
2. Perlawanan makna bertingkat (gradable)
- Kabîr (besar), mutawassith (sedang), shaghîr (kecil)
- Jafâf (musim kemarau), amthâr (musim hujan), rabî‘ (musim semi), kharîf (musim gugur), syitâ’ (musim dingin), shaif (musim panas)
- Hârr (panas), fâtir (panas kuku), khâniq (panas terik), sâkhin (hangat), dâfi’ (hangat kuku), ‘alîl (sejuk), bârid (dingin)
3. Perlawanan makna timbal balik (converse)
- Zauj (suami) berlawanan makna timbal balik dengan zaujah (istri)
- Thabîb (dokter) berlawanan makna timbal balik dengan marîdh (pasien)
- Ustâdz (guru) berlawanan makna timbal balik dengan tilmîdz (murid)
- Abâ’ (ayah) berlawanan makna timbal balik dengan abnâ’ (anak)
4. Perlawanan makna berhubungan dengan gerak dan arah (reverse)
- Fauq (atas) berlawanan makna dengan taht (bawah)
- Yamîn (kanan) berlawanan makna dengan syimâl (kiri)
- Khurûj (keluar) berlawanan makna dengan dukhûl (masuk)
- Jarra (menarik) berlawanan makna dengan dafa‘a (mendorong)[8]
C. Homonim (Al-Musytarak Al-Lafdzi)
Homonimi adalah beberapa kata yang sama, baik pelapalannya maupun bentuk tulisannya, tetapi maknanya berlainan.[9] Menurut Moeliono, homo sedikitnya mempunyai dua makna. Pertama, homo yang berasal dari bahasa latin yang bermakna ‘manusia’. Kedua, homo yang berasal dari bahasa Yunani yang bermakna ‘sama’. Dalam kasus ini, homo yang terdapat dalam homonim berasal dari bahasa Yunani. Setidaknya inilah yang dikemukakan oleh Matthews. Nim (-nym) sendiri merupakan combining form yang mempunyai makna ‘nama’ atau ‘kata’. Jadi, homonim adalah beberapa kata yang mempunyai kesamaan bentuk dan pelafalan tetapi maknanya berbeda. Oleh Fromkin dan Rodman (1998:163), homonim diperkenalkan dengan nama lain homofon. Untuk lebih sederhananya, Verhaar (1999:394) memperlambangkan homonim dengan X dan Y yang bermakna lain tetapi berbentuk sama.
Homonin dalam bahasa Arab banyak sekali dapat ditemukan. Berikut contoh homonim dalam bahasa Arab:
- Kata dharaba mempunyai artî (1) berdenyut; (2) mengepung; (3) memikat; (4) menembak; (5) memukul; (6) menyengat; (7) cenderung; (8) menentukan; (9) mengetuk. Semua kata dharaba yang mempunyai sedikitnya 9 arti ini semuanya dilafalkan dan berbentuk sama.
- Kata tawallâ mempunyai artî (1) berkuasa; (2) menaruh perhatian; (3) mengendalikan diri; (4) mengerjakan; (5) mengemudikan; (6) memimpin. Semua kata tawallâ yang mempunyai sedikitnya 6 arti ini semuanya dilafalkan dan berbentuk sama.
- Kata rusyd mempunyai artî (1) dewasa; (2) sadar; (3) petunjuk; (4) rasio. Semua kata rusyd yang mempunyai sedikitnya 4 arti ini semuanya dilafalkan dan berbentuk sama.
- Kata qabadha mempunyai artî (1) menekan; (2) mengembalikan; (3) mengerutkan: (4) menyempitkan; (5) melepaskan; (6) meninggalkan; (7) bersegera. Semua kata qabadha yang mempunyai sedikitnya 7 arti ini semuanya dilafalkan dan berbentuk sama.
D. Faktor-faktor Perubahan Makna
Dalam hal yang berhubungan dengan perubahan makna, Ullmann menyebutkan beberapa hal sebagai penyebabnya yakni :
- Faktor Kebahasaan
- Faktor Kesejaraan
- Faktor Sosial
- Faktor Psikologis
- Pengaruh Bahasa Asing
- Karena Kebutuhan Kata Yang Baru[10]
BAB III
KESIMPULAN
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang maknanya kurang lebih sama. Karena tidak akan ada dua buah kata berlainan yang maknanya persis sama. Yang sama sebenarnya hanyalah informasinya saja. Sedangkan Homonimi adalah beberapa kata yang sama, baik pelapalannya maupun bentuk tulisannya, tetapi maknanya berlainan. Adapun Istilah Antonimi berasal dari bahasa Yunani Kuno; anoma = nama, dan anti = melawan. Antonim adalah dua buah kata atau lebih yang maknanya ‘dianggap’ berlawanan.
Ullmann menyebutkan beberapa hal sebagai penyebabnya yakni :
- Faktor Kebahasaan
- Faktor Kesejaraan
- Faktor Sosial
- Faktor Psikologis
- Pengaruh Bahasa Asing
- Karena Kebutuhan Kata Yang Baru
DAFTAR PUSTAKA
http://sababulyaum.wordpress.com/2009/03/04/20/ di akses 14 Januari 2011
Pateda. Mansur. Semantik Leksikal. Jakarta: PT Rineka Cipta, Cet. I 2001
Taufiqurracman. Leksikologi Bahasa Arab. Malang: UIN-Malang Press, Cet. I 2008
Langganan:
Komentar (Atom)